Rabbit test
Istilah ini sering dikaitkan dengan sebuah tes kehamilan yang sempat populer di era tahun 1920-an. Penelitian tersebut ditemukan oleh 2 ilmuwan ternama asal Jerman yakni, Selmar Ascheim dan Bernhard Zondek. Sesuai dengan namanya, rabbit test bertujuan untuk mengetahui kehamilan seorang wanita dengan cara menyuntikkan sampel urin ibu hamil kepada kelinci betina dewasa selama 5 hari berturut-turut.
Selama proses berlangsung, kelinci malang itu dapat dipastikan mati mengingat kandungan urin dari ibu hamil dapat menggelembungkan massa hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) di indung telur hewan. Setelah itu, kelinci pun akan diotopsi untuk memeriksa indung telurnya. Jika indung telur mengalami pembengkakkan, itu menandakan bahwa sang wanita benar-benar positif hamil.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.