Rangkaian sirih ini, jelas Usman, ditata sedemikian rupa. Di mana untuk sirih bujang, tujuh tingkat dan sirih gadis, lima tingkat. Kedua bunga ini kemudian disandingkan untuk kemudian ditukar.
''Acara makan ketan masih tetap dilaksanakan. Tetapi pada rangkaian sirihnya mengalami perubahan. Rangkalan sirih ini hanya dibuat ala kadarnya atau tidak bertingkat-tingkat,'' kata Usman, Rabu 21 Maret 2018, malam.
Usman mengulas, pada masa terdahulu dalam berasan atau malam makan ketan ditentukan juga bila kerja (kerje/bepelan, bahasa lembak) akan dilangsungkan di balai. Sehingga masyarakat setempat secara bersama-sama membuat balai.
''Di balai itu ada tempat pengantin beristirahat. Mulai dari tempat duduk, tempat pakaian dan istirahat. Dengan dibatasi antara tempat pengantin yang satu dengan yang lain,'' ulas Usman.
BACA JUGA:
Selanjutnya, terang Usman, beberapa hari berikutnya masyarakat mulai mendirikan pangujung atau tenda. Pendirian itu dibangun secara bersama dengan melibatkan masyarakat setempat dan sanak saudara.
''Pembuatan pangujung pada masa lalu memiliki ciri tersendiri. Jika ahli rumah memotong sapi atau kerbau pangujungnya berbubung. Jika hanya memotong kambing atau ayam dan sebagainya maka pangujung tidak berbubungan,'' ulas Usman mengakhiri.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.