Mungkin saat ini, Surabi Hijau ini sudah menjadi makanan khas Kabupaten Karawang. Rasanya yang lezat, serta teksturnya yang lembut menjadi pembeda dengan penganan serupa. Tak hanya itu, keunggulan lain dari sorabi buatan Kasim ini yakni bebas bahan kimia. Karena, pewarna hijau yang digunakan untuk mewarnai sorabi tersebut berasal dari bahan alami, yakni daun suji.
Tak hanya pewarna, tepung beras dan santan yang digunakan pun tanpa campuran pengawet. Tak heran, karena hanya menggunakan bahan alami, penganannya ini hanya bisa bertahan 1x24 jam saja.
Meski waktu penyantapannya terbatas, namun ada saja sejumlah pelanggannya tetap membeli sorabi untuk dijadikan oleh-oleh. Seperti, untuk dibawa ke luar negeri. Menurut dia, para pelanggannya itu memiliki alat khusus. Sehingga, penganan bulat berwarna hijau ini bisa dinikmati para bule tanpa basi (makanan sudah rusak).
BACA JUGA:
Kasim mengaku, dalam sehari bisa menghabiskan paling sedikit 60 sampai 70 kilogram tepung beras. Sedangkan, untuk gula aren ditambah gula pasir sebanyak 50 kilogram. Selain menggunakan bahan alami tadi, dalam pembakarannya Kasim masih menggunakan kayu bakar.
"Saya masih menggunakan resep tradisional. Dari mulai bahan sampai pembakaran, semuanya masih tradisional," tambah dia.
BACA JUGA:
Soal tips membuat sorabi yang berkualitas, Kasim tak pelit berbagi resepnya. Menurut dia, sorabi yang bagus dapat terlihat dari bentuknya. Jika dibelah, akan terlihat pori-pori dengan diameter yang cukup besar. Jika banyak pori-porinya, maka sorabi ini bagus alias tidak bantat.
Untuk menghasilkan sorabi seperti itu, lanjut dia, harus diperhatikan mengenai kualitas tepungnya, cara menyampur adonan, hingga proses pembakaran adonannya. Anda penasaran dengan rasa sorabi ini, silahkan saja datang ke Rengasdengklok.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.