Pengalaman perjalanannya itu pun dituliskan dalam blog pribadi bertajuk Trek With Taylor, serta di Twitter dan Instagram. Ia berharap dapat menginspirasi orang lain untuk keluar dari zona nyamannya, mengeksplorasi budaya baru, serta belajar lebih banyak tentang diri mereka sendiri dalam proses perjalanan.
Taylor sendiri mengakui bila menjadi seorang traveler bukanlah hal yang mudah. Ia harus mengatasi kecemasan sosial yang melanda dirinya terkait keamanan suatu negara.
Beruntung setiap pengalaman yang didapatkannya membuat ia terus berkembang dan termotivasi untuk melakukan hal-hal baru. Salah satu cara yang diterapkan oleh Taylor untuk mengatasi kecemasannya adalah menganggap dan percaya semua orang pada umumnya baik.
“Kita juga harus mengubah perspektif dari yang tadinya percaya jika orang lain tidak suka dengan kita karena berasal dari negara yang berbeda menjadi berpikiran orang lain hanya ingin membantu dan senang bila ada orang asing yang mengunjungi negaranya,” tutur Taylor. Dirinya mengatakan jika mendapatkan pengalaman langsung tentang kebaikan orang asing melalui pemikiran itu. Terlebih di setiap negara ia harus mendapatkan dua tanda tangan sebagai bukti jika dirinya pernah datang berkunjung, meminta kontak mereka, mengambil waktu, serta mencatat waktu masuk dan keluar.
(Helmi Ade Saputra)