Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Demam Keong, Penyakit Kuno yang hanya Ada di China, Jepang dan Indonesia

Mengenal Demam Keong, Penyakit Kuno yang hanya Ada di China, Jepang dan Indonesia
Ilustrasi keong (Foto: NPR)
A
A
A

PALU – Penyakit Demam Keong belakangan merebak di Sulawesi Tengah. Kementerian Kesehatan pada 2017 mencatat ada 80 kasus dengan satu angka kematian. Seperti apa sebetulnya penyakit kuno yang hanya ada di tiga negara ini?

Schistosomiasis alias Demam Keong tergolong dalam penyakit tropis terabaikan. Kelompok penyakit ini memang bukan jenis yang banyak terjadi tetapi kasusnya ada sekalipun angkanya kecil.

Demam keong mengintai mereka yang banyak beraktivitas di persawahan atau memang berada di wilayah yang tergolong sebaran penyebab. Yaitu wilayah yang diketahui terdapat cacing Schistosoma Japonicum. Nah, cacing ini bisa menginfeksi manusia secara langsung atau bisa melalui keong atau hewan mamalia.

“Meskipun kasus ini hanya ada di Sulawesi Tengah, namun hewan ternak yang mungkin terkena virus dan dibawa ke luar wilayah, sehingga pemerintah berniat untuk menghilangkan kasus ini secara total dan memastikan bahwa Indonesia bebas dari demam keong, baik dari penyebaran masalah sampai dengan lokasi masalah yang sudah steril,” papar Menteri Kesehatan Nila Moeloek, beberapa waktu lalu.

Penularan Demam Keong terjadi melalui kontak langsung dengan air, dimana keong penular hidup di sana, yang membawa larva infektif cacing Schistosoma (serkaria). Untuk manusia, penyebarannya terjadi melalui mencuci, mandi, atau melewati air yang mengandung larva infektif serkaria. Larva yang berada di dalam air bisa menembus kulit manusia. Nah, kalau sudah begitu, larvanya akan berkembang menjadi cacing dewasa dan hidup di dalam tubuh manusia.

Untuk stadium awal terjadi perubahan kulit berupa gatal-gatal karena serkaria menembus kulit. Sementara untuk stadium akut yang dimulai sejak cacing dewasa betina bertelur, gejala yang timbul adalah demam, diare, berat badan berkurang drastis, dan gejala disentri. Perbesaran dan limfe dapat terjadi lebih dini pada stadium ini, juga berkembang menajdi ruam merah.

Kemudian pada stadium menahun kelainan atau tanda klinis yang terjadi adalah kerusakan hati atau sirosis hati, dan limfa. Kondisi ini membuat pasien menjadi sangat lemah. Bila tidak segera ditangani, pasien akan meninggal dunia.

Meski sudah positif pemicu penyakit ini adalah keong, namun belakangan beredar rumor bahwa penularan dapat terjadi melalui medium mengonsumsi daging hewan atau ikan dari daerah endemik. Akibatnya, banyak masyarakat enggan mengonsumsi daging sapi, kerbau, kambing dan ikan dari dari Dataran Lindu, Kabupaten Sigi atau dari Dataran Napu dan Bada di Kabupaten Poso. Selama ini, tiga dataran itu merupakan wilayah endemik keong schistosoma jamponium. Wilayah-wilayah itu berada di sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Peneliti muda dari Balai Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah Yunus Widjaja mengatakan sumber penyakit schistosomiasis bukan dari makanan. "Sumber penyakit yang dikenal dengan istilah demam keong itu sumbernya adalah cacing schistosma jamponium," tegasnya di Palu, Kamis (1/3/2018).

(Baca Juga: Melihat Jejak Telapak Kaki Pertama Nabi Adam di Srilanka)

Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir jika mengonsumsi daging atau ikan yang berasal dari daerah endemik. Masyarakat, dia menegaskan, tidak perlu takut makan daging atau ikan yang berasal dari daerah itu, karena penyakit kuno yang hanya ada di tiga negara yakni Jepang, China dan Indonesia dan hanya ada di kawasan TNLL bersumber dari cacing schistosoma jamponium, bukan makanan. "Sama sekali bukan dari makanan, tetapi cacing schistosoma," tegasnya.

(Pesawat Transvia Terpaksa Lakukan Pendaratan Darurat karena Penumpangnya Tidak Berhenti Kentut)

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement