Earth Hour mendapatkan anak penyu tersebut dari seorang warga bernama Jakfar, yang merupakan seorang pedagang di pantai Lhoknga. Setiap malam hari, Jakfar mengitari pantai itu untuk mencari telur penyu. Setelah didapatinya, kemudian dirinya mengambil telur itu dan diletakkan di sebuah tempat penangkaran yang sudah disediakan, hingga menetas dan tukik itu dilepaskan ke laut.
''Kalau enggak saya ambil, telur itu curi sama orang dan dijual ke pasar dengan harga 5 ribu (rupiah),'' ujar Jakfar.
Aksi ini sudah dilakukan Jakfar sejak 2012. Alasannya melakukan aksi tersebut karena kerap merenung melihat banyaknya pencuri telur penyu di kawasan pantai terseut. Sehingga dirinya menjalankan aksi itu dengan dengan empat temannya pada pertama sekali, yang kemudian bertambah menjadi delapan orang.
''Kadang-kadang waktu saya enggak dapat telur waktu saya cari di pantai, saya juga beli sama orang yang curi itu, harganya 4 ribu (rupiah) saya beli, kalau lebih saya enggak sanggup, kemudian telur itu saya masukkan di penangkaran hingga menetas,'' ujarnya.
Hingga kini, aksi yang dilakukannnya tersebut mendapat respon positif dari lembaga yang bergerak dalam konservasi lingkungan dan satwa dilindungi. Dirinya pernah mendapat bantuan operasional dari WFF dan beberapa lembaga lainnya dalam menjalankan aksinya.
''Kalau tahun ini belum ada (bantuan). Dulu pernah ada bantuan uang operasional, senter untuk cari telur penyu itu, kamera, baju hujan gitu,'' pungkasnya.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.