Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rumah Panggung Melayu Bali Terancam Punah

Rumah Panggung Melayu Bali Terancam Punah
Ilustrasi (Foto: Rajahajifisabilillah-airport.co.id)
A
A
A

Sayangnya budaya melayu dari sisi bahasa yang masih digunakan masyarakat Loloan, tidak diimbangi pelestarian budaya dalam bentuk fisik seperti rumah panggung.

Untuk menyelamatkan aset budaya yang hanya ada satu di Pulau Bali ini, Musadat berharap campur tangan pemerintah agar rumah panggung tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tapi bisa mendapatkan peran yang lebih luas seperti menjadi penginapan budaya, rumah baca maupun fungsi-fungsi lainnya yang masih berhubungan dengan budaya Loloan.

Ia menilai, masyarakat sekarang dengan gampang menjual rumah panggung, karena menganggap rumah itu tidak memiliki sisi ekonomi, sementara membutuhkan biaya yang tidak sedikit saat perbaikan.

"Tapi kalau dijadikan penginapan semacam home stay, otomatis rumah panggung memiliki fungsi ekonomi sehingga pemilik akan berpikir atau bahkan tidak mau menjualnya. Untuk potensi tamu yang menginap, kan wisata religi di Loloan ini cukup berkembang dengan jumlah pengunjung lumayan banyak. Tinggal pemerintah bersama kami masyarakat sini menyatukan pola pengelolaannya," katanya.

Campur tangan pemerintah, menurutnya, bisa membeli langsung rumah panggung untuk dijadikan penginapan wisata budaya, atau minimal membantu penataan serta pelatihan manajemen sehingga tamu tertarik menginap di tempat tersebut.

Untuk membeli rumah panggung tanpa tanahnya, ia mengatakan, harganya sangat murah jika dibandingkan nilai historis dan pelestarian budaya yaitu antara Rp40 juta hingga Rp70 juta.

"Rumah panggung yang dijual seluruhnya dibawa keluar daerah Jembrana dan digunakan sebagai villa maupun home stay, seperti yang ada di wilayah Pemuteran, Kabupaten Buleleng. Saat melintasi jalan raya Gilimanuk-Buleleng, jika melihat rumah panggung di penginapan wisata sepanjang wilayah itu, rumah itu berasal dari Loloan," katanya.

Dengan bahan yang tidak menggunakan paku untuk menyambungkan namun menggunakan pasak kayu, rumah panggung dengan mudah dibongkar untuk kemudian dipasang lagi.

Kegelisahan mulai menyusutnya jumlah rumah panggung hingga terancam punah, juga dirasakan generasi muda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Loloan (GPL) yang belum lama terbentuk.

Beberapa anggota gerakan ini saat ditemui di rumah baca dengan memanfaatkan rumah panggung yang mereka kelola menyatakan kekhawatirannya, generasi setelah mereka tidak akan lagi menjumpai rumah panggung.

"Pada tahun 2012 saya pernah melakukan pendataan jumlah rumah panggung. Saat itu jumlahnya tinggal 60 unit, yang tentu sudah jauh berkurang saat ini," kata Rahil, salah seorang anggota GPL.

Selain jumlahnya yang terus berkurang, ia mengatakan, rumah panggung sekarang sudah sangat jarang bertahan dengan bentuk aslinya, karena rata-rata sudah dimodifikasi terutama pada bagian bawahnya.

Rumah panggung yang asli, katanya, pada bagian bawah dibiarkan terbuka atau kalaupun ditutup difungsikan sebagai tempat menyimpan kayu bakar atau kandang ternak seperti ayam.

"Sekarang bagian bawah rumah panggung dibangun tembok permanen sebagai tempat tinggal, sehingga kesannya seperti bangunan rumah dua lantai," katanya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement