Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rumah Panggung Melayu Bali Terancam Punah

Rumah Panggung Melayu Bali Terancam Punah
Ilustrasi (Foto: Rajahajifisabilillah-airport.co.id)
A
A
A

RUMAH panggung Kampung Loloan sebagai salah satu identitas budaya melayu di Kabupaten Jembrana, Bali terancam punah karena lemahnya upaya pelestarian.

Secara geografis, Kampung Loloan terbagi menjadi dua wilayah kelurahan yaitu Loloan Timur dan Loloan Barat, dengan tradisi melayu yang berasal dari nenek moyang masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu.

"Masalah atau penyebab yang dominan semakin menyusutnya jumlah rumah panggung Loloan, akibat bagi waris. Rumah panggung peninggalan orangtua dijual, kemudian uang hasil penjualan dibagi antar ahli waris rumah tersebut," kata H. Musadat Johar, salah seorang budayawan dan tokoh masyarakat Loloan, Selasa (20/2/2018).

Dengan "kebiasaan" masyarakat, seperti itu, katanya, bisa dipastikan dari waktu ke waktu jumlah rumah panggung semakin berkurang, yang saat ini bentuk hunian dengan arsitektur tersebut merupakan minoritas di tengah rumah berarsitektur modern.

Dari pembangunan rumah baru yang dilakukan masyarakat Loloan saat ini, ia mengatakan, sudah tidak ada lagi yang memilih rumah panggung sebagai pilihan bentuk tempat tinggal, yang sudah berlangsung selama beberapa generasi.

"Setelah generasi saya, tidak ada lagi yang membangun rumah panggung. Dengan dijual karena faktor bagi waris ditambah tidak adanya pembangunan baru, tidak lama lagi rumah panggung akan punah," katanya.

Untuk membangun rumah panggung, seperti yang disampaikan Musadat dan beberapa masyarakat Loloan lainnya, memang dibutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibanding membangun rumah model sekarang.

Bahan dasar rumah panggung adalah kayu, yang beberapa jenis saat ini sudah sulit dicari bahkan bisa dikatakan sudah tidak ada lagi di Bali.

Menurut Musadat, tiang-tiang utama rumah panggung rata-rata menggunakan kayu jenis tangi, yang pada rumah panggung yang asli tidak terdapat sambungan hingga belasan meter.

"Jadi kayu penyangga utama itu utuh sampai panjangnya mencapai belasan meter. Saat ini tentu sangat sulit mencari kualifikasi kayu seperti itu, kecuali memesan dari daerah lain yang tentu dengan harga yang mahal," katanya.

Namun, dengan kayu-kayu pilihan rumah panggung dengan style bangunan seperti di daerah Sulawesi dan Sumatera ini, memiliki daya tahan hingga ratusan tahun seperti yang masih dimiliki keluarga Musadat Johar.

Ia mengatakan, rumah panggung peninggalan datuknya (bahasa Kampung Loloan untuk kakek atau nenek), masih bertahan hingga kini yang usianya diperkirakan sekira 300 tahun.

"Kalau dihitung sampai cucu saya, rumah panggung itu sudah bertahan selama tujuh generasi. Memang ada beberapa perbaikan, tapi tiang-tiang utamanya tetap menggunakan kayu yang digunakan sejak awal pembangunan," katanya.

Sebagai pilihan model, ia mengatakan, rata-rata rumah panggung Loloan mengambil model Sulawesi atau Sumatera, karena tidak lepas dari asal usul nenek moyang masyarakat setempat yang berasal dari daerah tersebut.

Dua model ini, menurutnya, bisa dibedakan dari jumlah anak tangga yang digunakan yaitu dengan lima sampai tujuh anak tangga untuk model Sulawesi dan sembilan anak tangga untuk model Sumatera.

Dari sejarah yang tercatat, masyarakat Kampung Loloan berasal dari Suku Melayu yang datang ke wilayah Jembrana ratusan tahun lalu, yang saat itu masih menganut sistem tata negara berbentuk kerajaan.

Mereka datang secara bertahap menggunakan perahu, masuk ke daerah yang saat ini menjadi bagian dari Kota Negara lewat Sungai Ijogading yang bermuara ke laut.

Asimilasi mereka dengan masyarakat bahkan kerajaan setempat berlangsung cepat, termasuk dengan membantu raja kala itu menahan serangan kerajaan lainnya.

Hubungan erat dengan raja saat itu, membuahkan hadiah tanah berhutan di pinggir Sungai Ijogading yang sekarang menjadi Kelurahan Loloan Timur dan Loloan Barat.

(Baca Juga: Ingin Uji Nyali di Bali? Ini 5 Destinasi yang Bisa Dikunjungi)

Dengan bahan-bahan kayu hutan itu, mereka mendirikan pemukiman dengan bentuk rumah panggung, yang selain bagian dari budaya bawaan mereka juga sebagai pengaman karena saat itu Sungai Ijogading dihuni ribuan buaya.

"Budaya melayu masih kami gunakan sampai sekarang, contohnya adalah bahasa sehari-hari yang masih menggunakan bahasa melayu," kata Musadat.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement