Advertisement
Advertisement

20 Ramuan Tradisional Banjar, Manjur Obati Sakit Gigi hingga Bisul

20 Ramuan Tradisional Banjar, Manjur Obati Sakit Gigi hingga Bisul
A
A
A

INDONESIA yang membentang dari Sabang atau ujung paling barat Pulau Sumatera hingga Merauke atau ujung paling timur Papua/Irian dan beriklim tropis memiliki kekayaan alam berupa tumbuh-tumbuhan serta binatang atau hewan yang tiada terhingga banyaknya.

Namun kekayaan alam berupa tumbuhan dan hewan yang banyaknya tiada terhingga itu belum semua tergali kemanfaatannya serta dimanfaatkan secara maksimal, terutama dalam hubungan sebagai obat dan ramuan tradisional bagi masyarakat setempat.

Kecenderungan terhadap dunia medis tampaknya sudah merasuk kehidupan, terlebih dalam tatanan masyarakat modern, sehingga ketradisionalan dalam obat-obatan dan ramuan nyaris tak bermakna atau terpinggirkan sebagai upaya penyembuhan dan menjaga kesehatan.

Padahal dunia medis yang notabene merupakan pola pemikiran modern itu pada dasarnya berawal dari ketradisionalan yang terus berkembang maju melalui penelitian, seiring kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi.

Sementara belum semua lapisan masyarakat mengenal, apalagi menikmati dunia medis, terlebih bagi mereka berpenghasilan pas-pasan atau minim, serta tinggal di daerah terpencil, misalnya kawasan pesisir dan pulau-pulau terpencil, serta pedalaman Pegunungan Meratus.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan masyarakat masih memilih menggunakan obat-obatan dan ramuan tradisional dalam pengobatan serta memelihara atau menjaga kesehatan mereka, termasuk bagi urang Banjar Kalsel dan yang tinggal di daerah terpencil.

Pasalnya obat dan ramuan tradisional tersebut juga memiliki khasiat atau keampuhan, serta terjangkau secara eknomis, bahkan bisa cuma-cuma (gratis) dan relatif mudah mendapatkan pada alam sekitar.

Sikap dan pola pikir masyarakat yang masih mengganderungi obat dan ramuan tradisional itu tidak bisa disalahkan, karena yang terpenting adalah bagaimana memotivasi mereka supaya berperilaku sehat dan menjadi sehat.

Selain itu, perlu penelitian yang lebih mendalam dan seksama terhadap obat-obatan dan ramuan tradisional agar efektifitasnya betul-betul terjamin, bukan sebaliknya menimbulkan efek samping berupa dampak negatif yang bisa mengancam keselamatan jiwa.

Sebagai contoh kalau obat-obatan dan ramuan tradisional tersebut bukan untuk dimakan atau diminum, tetapi sebagai obat gosok atau sebaliknya, maka penggunaannya pun secara proporsional dan profesional supaya tepatguna, tepat sasaran.

Hal lain yang juga tidak kalah pentingnya yaitu bimbingan dan penyuluhan agar tetap higenis (terjamin kesehatannya) sehingga aman, baik dalam mengolah maupun mengonsumsi atau memanfaatkan obat-obatan dan ramuan tradisional tersebut.

Jenis dan khasiatnya

Urang Banjar Kalsel dan komunitas masyarakat terasing yang tinggal di pedalaman Meratus mengenal dan memanfaatkan obat-obatan dan ramuan tradisional dalam pengobatan ataupun memelihara kesehatan dan mencegah serangan penyakit.

Sebagaimana ragam obat dan ramuan tradisional tersebut tentu dengan jenis serta khasiat berbeda, kendati di antaranya ada kesamaan hasiat dalam kesehatan masyarakat yang tinggal sejak dulu atau beabad-abad silam di Kalsel, serta Pulau Kalimantan (Borneo) pada umumnya.

Beberapa obat dan ramuan tradisional bagi urang Banjar Kalsel dan komunitas masyarakat terasing atau Suku Dayak Meratus sulit menemukan bahasa Latin atau bahasa ilmiah dalam dunia medis ataupun kefarmalogian.

Oleh karena itu, dalam penulisan obat dan ramuan tradisional tersebut kemungkinan banyak menggunakan sebutan aslinya atau "bahasa ibu" dengan tetap mengupayakan terjemahan yang pengertiannya ke dalam bahasa Indonesia guna pengenalan publik.

Guna lebih memudahkan pengenalan atau mencocokkan dengan ekslopedi bahasa Indonesia dalam konteks farmakologi di Tanah Air ini, penulisan obat-obatan dan ramuan tradisional tersebut berdasarkan kelompok kesehatan atau penyakit yang masyarakat Kalsel serta Indonesia alami.

1. Demam panas karena pengaruh cuaca, maka untuk penurunan atau penyembuhan bisa mengosumsi "banyu kinca" (air santan segar campur gula merah/aren), dan air bercampur daun "raja babangun/turus dingin" yang diremas dengan mengusap-usapkan ke badan atau kepala.

2. Deman panas karena pengaruh cuaca dan mengeluarkan "karumut" (sejenis campak) pada muka serta bagian tubuh, untuk penyembuhan pada umumnya cukup memandikan "banyu nyiur" (air kelapa) dengan cara tertentu.

3. Sakit gigi jika tidak berlubang atau sekedar pengaruh peradangan gusi, dapat berkumur-kumur dengan air rebusan daun sirih, baik sirih biasa maupun sirih merah. Namun bila gigi yang sakit berlubang dapat mengumur-kumurkan air rebusan kulit batang "ketapi" (ketapi sp) dan kulit batang bunga tanjung.

Selain itu, mengumur-kumurkan air rendaman tempurung (batok) kelapa yang dibakar. Pengobatan ini pada umumnya cepat sembuh, tetapi berisiko atau berdampak terhadap percepatan pengeroposan gigi.

4. Luka kecil atau tidak terlalu besar untuk mengurangi atau menghentikan darah keluar dan sekaligus buat penyembuhan, cukup mengoleskan getah batang keladi (talas), menutup dengan remesan daun sengkong, pucuk pisang dan daun jambu "karantukal" (jambu biji/jambu klotok).

Sementara jika mata luka agak besar misalnya kena bacok, untuk menghentikan darah keluar bisa menggunakan daun ambaratan (ambaratan sp) yang disebut juga daun maling. Mengapa disebut duan maling? Karena pada umum maling kena bacok untuk sementara menggunakan daun ambaratan agar tidak ada ceceran darah guna menghilangkan jejak.

Ambaratan sejenis tumbuhan hutan Meratus. Sesudah dengan daun ambaratan tersebut, kemudian baru pengobatan yang lebih intensif lagi, karena penyembuhan luka itu hanya pada kulit/bagian luar.

5. Mimisan atau darah keluar dari lubang hidung, urang Banjar Kalsel menyebutnya "rastung" atau memesan, untuk menghentikannya cukup dengan "manyumpalkan" (menyumbat) lubang hidup dengan daun sirih.

(Baca Juga: Daun Bungkus, Tanaman Herbal untuk Kejantanan Pria)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement