Agats dihuni oleh Suku Asmat yang menjalani kehidupan dengan cara yang cukup tradisional. Salah satu bukti ketradisionalan Suku Asmat, mereka masih percaya pada mitos yang berupa kutukan wilayah Agats akan selalu basah dan jadi rawa untuk selamanya.
Daerah Agats yang berada di rawa membuat penduduknya harus mendirikan kota di atas papan-papan yang disusun. Susunan papan-papan yang menjadi dataran bagi daerah Agats dan membuat ibukota kabupaten tersebut jadi tampil unik serta berbeda dari daerah lainnya di Indonesia.
Melansir dari laman Indonesia Kaya, Kamis (26/10/2017), seluruh jalan di kota menyerupai jembatan yang dibuat dari kayu besi. Semua jalan-jalan di Kota Agats pun tampak seperti dermaga.
Rumah-rumah penduduk juga dibangun menyesuaikan dengan kondisi alam yang ada. Mereka membangun rumah dalam bentuk panggung yang disusun atas kayu, batang pohon sebagai penopangnya dan susunan papan-papan sebagai lantai rumah.