Ibu Robin pindah dari Hawaii ke Ubud bersama keluarganya 26 tahun silam. Pada saat itu, ia menemukan bahwa banyak kehamilan di Bali berisiko tinggi akibat ibu kekurangan gizi, berasal dari keluarga miskin, atau tidak ada akses ke bidan terampil.
Pelan-pelan, Robin dibantu beberapa sejawatnya membantu persalinan ibu-ibu dari rumah ke rumah, sebelum mendirikan Yayasan Bumi Sehat pada 2005.
Kini, yayasan tersebut telah memiliki satu cabang di Aceh yang didirikan pascatsunami 2004 dan satu lagi klinik di Sentani, Papua, yang sedang dalam tahap pembangunan.
Klinik Bumi Sehat di Ubud memiliki tiga ruang bersalin dan empat ruang pascabersalin (postpartum), poliklinik umum dan laboratorium, klinik akupuntur, serta selasar untuk kegiatan yoga hamil.
Setiap bulan, 13 bidan yang bekerja di klinik tersebut bisa membantu 30-50 kelahiran. Cara-cara yang digunakan oleh para bidan Bumi Sehat dipertahankan agar sealamiah mungkin dengan tidak memakai induksi, penghilang rasa sakit, ataupun alat vakum untuk menarik bayi.
(Baca Juga: Punya Jerawat di Miss V? Begini Cara Mengatasinya)
Bayi dan ibu sebisa mungkin dihindarkan dari intervensi kimia yang sebetulnya tidak dibutuhkan dalam proses persalinan. Sementara bidan lebih berperan mendampingi dan memotivasi ibu agar dapat menjalani proses persalinan dengan lancar, tetap menjaga emosi dan psikologi ibu agar tetap rileks.
Meskipun telah mempekerjakan belasan bidan, setiap hari Ibu Robin masih aktif menyapa satu per satu pasiennya. Tidak hanya membuka obrolan, perempuan yang khas dengan tampilan rambut kepang panjangnya ini tidak segan memeluk dan mencium ibu-ibu dan anak-anak yang berkunjung ke kliniknya.
(Baca Juga: Simpel Tetapi Penuh Statement, Gaya Make-Up Favorit Supermodel Kimmy Jayanti)
"Salah satu alasan mengapa banyak pasien kembali untuk kehamilan kedua, ketiga, atau merekomendasikan Bumi Sehat ke teman dan kerabat adalah karena bidan-bidan kami melayani dengan kasih sayang," kata Ibu Robin.
Seluruh pelayanan kesehatan yang disediakan oleh Bumi Sehat dijalankan dengan sistem donasi, dimana pasien bisa menyumbang seikhlasnya. Jika ada masyarakat yang benar-benar tidak mampu berdonasi dalam bentuk uang, mereka terkadang menyumbang hasil kebun atau karya seni.
Selain donasi dari pasien, operasional klinik tersebut juga disokong bantuan dana dari beberapa individu dan kelompok, meskipun hingga kini belum ada pihak yang bersedia menjadi donor tetap.