“Tatapannya terasa canggung, baik di luar rumah dan sekolah,” katanya.
“Aku berada di sekolah dengan anak yang sama, sampai kelas dua belas sehingga setiap orang di sekolah sudah terbiasa melihat tanda lahirku. Sampai aku berada di luar rumah dan sekolah. Beberapa orang akan menyipitkan mata, bertanya apakah itu cat, bertanya tentang pengangkatan (operasi) dan juga beberapa orang minta untuk menyentuhnya,” lanjutnya.
Namun, wanita berusia 30 tahun ini mengaku, sudah tak lagi terpengaruh oleh ucapan banyak orang mengenai tampilan wajahnya. Ia berusaha menyebarkan aura positif agar dapat menginspirasi orang lain yang juga mengalami hal yang sama. Menurutnya, tanda lahir yang dimiliki bukan perkara perbedaan dari hal penampilan saja.
BACA JUGA