Ada makna yang tersirat dalam tradisi jamasan pusaka ini. Memandikan keris bisa berarti membersihkan diri. Bagi orang yang memandikan keris membutuhkan doa, dan juga kesabaran dan ketelitian.
Malam satu suro bagi masyarakat jawa merupakan penyatuan dari tahun hijriah dan penanggalan tahun Masehi. Dan ini mulai berlaku sejak era sultan agung.
"Dulu masyarakat Jawa masih menggunakan tahun Saka, kemudian disatukan menjadi tanggalan Jawa ini bisa mempersatukan masyarakat kala itu dalam menghadapi kolonial," ujarnya.
Satu Suro itu lanjut Joko Pengging digunakan masyarakat Jawa sebagai makna perenungan. Selama satu bulan masyarakat Jawa akan merenungi (introspeksi). Kraton sendiri menggunakan Satu Suro sebagai makna perenungan. Dalam bulan tersebut pihak Kraton sendiri untuk hal-hal yang berbau ritual sarat Keillahian sekaligus nilai -nilai tentang kearifan lokal.
"Dan bagaimana perenungan (kepada Illahi) itu ldiwujudkan dalam bentuk upacara waktu bulan Suro," jelas Joko Pengging.
Masyarakat Jawa tidak bisa lepas dari "ageman" (pusaka). Pusaka sendiri dulu mengalami pergeseran mulai dibuat dari sebuah senjata, kemudian diangkat menjadi sebuah nilai strata sosial kemudian menjadi sebuah simbol permohonan tapi harus cocok dengan yang memakai (memiliki) pusaka tersebut.