SEBAGAI daerah yang masih memegang cukup kuat adat istiadat, Madura menawarkan kultur yang orisinil. Beberapa tradisi leluhur masih dijalankan masyarakatnya. Tak terkecuali peninggalan sejarah di dalamnya. Sebut saja kain Madura.
Tak kalah populer dari batik Yogyakarta, Solo, atau Cirebon, batik Madura pun menawarkan kekhasannya sendiri. Merupakan wilayah pelesir pantai, tidak heran jika kain batik Madura banyak menggunakan warna cerah seperti merah, biru, atau hijau. Motifnya pun khas.
BACA JUGA:
Bicara mengenai motif sebuah batik, salah satu faktor pembentuknya adalah peradaban masyarakat setempat atau masyarakat sekitar yang kemudian menjadi inspirasi pembuatan motif. Namun berbeda dengan Madura, ternyata budaya asing yang mendominasi terciptanya motif kain Madura. Adalah China. Negara tersebut membawa pengaruh banyak terhadap terciptanya kain ini.
Sedikit cerita mengenai pembentukan motif kain Madura. Dijelaskan bahwa saat itu banyak penduduk Tionghoa yang mendiami Madura. Makanya, selain karena daerah pelesir, kesukaan masyarakat China terhadap warna cerah juga yang akhirnya mengisnpirasi pengrajin kain batik Madura.
Kemudian, untuk motifnya sendiri, ternyata kain Madura “doyan” bermain di bentuk garis. Lebih lengkapnya lagi, ternyata setiap motif yang terlukis di kain Madura mengandung makna besar. Salah satunya adalah menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Semua unik dan langka. Sementara itu, jika bicara corak, ternyata kain Madura lebh cenderung mengambil motif hewan, tumbuhan, atau kombinasi keduanya.
Tapi, apakah Anda tahu darimana awalnya batik Madura itu muncul?
Perlu Anda ketahui sebelumnya, Madura sudah memproduksi batik sudah cukup lama. Tepatnya sejak pemerintahan Kerajaan Majapahit pada 1293. Produksi batiknya pun cukup besar, ya, tidak kalah dengan batik Solo, Yogyakarta, Cirebon, atau Pekalongan. Sampai sekarang pun kain Madura masih menjadi salah satu pilihan terbaik dalam memilih kain nusantara.
Terkait dengan kemunculan batik Madura, ada beberapa anggapan yang menyatakan bahwa kain Madura berasal dari sisa sejarah. Maksudnya adalah sekitar abad ke-13 sampai abad ke-17, di mana sedang terjadi peperangan di daerah Pamekasan antara ulama penasihat spiritual Raden Ismail (seorang Adipati Pamekasan) yang bernama Raden Azhar melawan KeLasep yang merupakan putera Madura yang konon adalah keturunan Cakraningrat I dari isteri selir.
Pada saat peperangan terjadi, Raja Azhar mengenakan pakaian batik sebagai pakaian kebesaran. Saat itu, diketahui Raja Azhar mengenakan batik dengan motif leres atau liris. Sementara itu, anggapan lain pun mencuat terkait dengan busana yang dipakai sang raja, yaitu Raja Azhar mengenakan baju bermotif parang. Perlu diketahui, motif leres sendiri adalah motif garis yang melintang secara simetris.
BACA JUGA:
Dari cerita tersebut dijelaskan, saat mengenakan batik Madura motif leres, sang raja terlihat sangat berkharisma, tampak gagah perkas, serta berwibawa. Maka, sejak saat itulah batik madura menjadi salah satu perbincangan, baik di kalangan masyarakat maupun pembesar-pembesar kerajaan. Terutama di daerah Pamekasan, Madura. Di sinilah sejarah batik madura mulai berkembang.
Kemudian, bagaimana dengan Batik Gentongan?
Ketika mendengar batik Madura, mungkin Anda langsung tertuju pada batik Gentongan. Tidak salah. Sebab, batik tersebut memang cukup familiar di pencinta kain nusantara. Kekhasan Madura terlihat sekali di kain batik tersebut. Batik Gentongan sendiri termasuk dari salah satu jenis batik Madura yang ada, yaitu Bangkalan.
Selain itu, daerah Madura lainnya yang memiliki batik yang cukup tersohor adalah Sumenep, Sampang, dan Pamekasan. Tentunya setiap wilayah itu punya ciri khas.
Untuk batik Pamekasan misalnya, batik jenis ini lebih berani dengan menggunakan warna yang tajam dan cerah, serta motifnya cukup beragam. Kemudian, untuk Batik Sumenep, ciri khasnya hanya menggukan satu warna dan warna yang dipilih biasanya cerah. Nah, batik yang cukup populer Batik Bangkalan ternyata memiliki lebih dari seribu motif. Luar biasa!
Setelah itu, ada Batik Sampang. Batik jenis ini dikenal dengan nama Batik Kotah. Ciri khasnya ialah memiliki motif khas Madura, berupa flora dan fauna. Seperti motif kembang dan burung. Warna yang dipakai pun dominan merah dan hijau. Batik ini biasanya dibuat di atas kain sutera dan katun.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.