Untuk pewarnaan kain tenun, masyarakat Desa Wae Rebo sudah ada yang menggunakan proses pewarnaan yang tidak lagi tradisional. Jadi, ada pewarnaan yang sudah terpengaruh oleh dunia luar. Namun, masih ada beberapa yang menggunakan pewarnaan dari alam.
Rumah-rumah Desa Wae Rebo berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang, di setiap rumah ditinggali oleh delapan hingga sembilan kepala keluarga. Di dalam rumah tersebut ada sebuah dapur dan ada kamar-kamar yang tersedia. Setiap kamar tersebut dihuni oleh satu keluarga.
Makna rumah ini agar masyarakat Wae Rebo terbiasa hidup berdampingan dan tidak saling berselisih. Setiap rumah yang ada di Desa Wae Rebo, biasanya ada mamak-mamak yang menenun. Mereka sudah diajarkan membuat kain sejak umur sekira 14 atau 15 tahun, bagi anak perempuan.
Baca Juga: Berniat Beli Rumah dengan Fasilitas Bandara? Syaratnya Harus Punya Hobi Ini
Lama pengerjaan satu kain diselesaikan dalam kurun waktu yang beragam. Untuk yang berukuran kecil biasanya diselesaikan dalam kurun waktu satu minggu. Sedangkan, untuk kain yang seperti sarung dan dapat digunakan sebagai bawahan, biasanya tiga hingga lima bulan pengerjaan.
Jadi, lama dari proses penenunan tergantung dari ukuran kain, semakin besar artinya proses penenunan semakin lama. Proses penenunan juga tergantung dari kegiatan mamak-mamak yang mengerjakan karena mereka tidak hanya beraktifitas menenun kain, tapi juga berkebun, menjemur kopi, jadi tidak menenun 24 jam.