Lima tahun kemudian, hutan ini mulai diberdayakan kembali oleh penduduk lokal untuk dijadikan lahan kopi dogiyai. Pengelolanya adalah perkumpulan uskup dan masyarakat yang ada di daerah tersebut.
"Awalnya kopi dogiyai dikenal dengan merek P5, sebuah merek milik keuskupan disana. Nah, kami mau memberikan opsi lain kepada para petani agar tidak hanya menjual kopi ke keuskupan saja. Oleh karena itu, sejak tahun 2016, kami mulai memasok biji kopi dogiyai untuk dijual di gerai-gerai kami di Jakarta," ungkap Irvan.
Dari segi rasa, kopi dogiyai memiliki body yang sangat mild atau tekstur airnya sekental kopi-kopi pada umumnya. Ini merupakan salah satu ciri khas kopi-kopi yang ditanam di lereng-lereng gunung.
BACA JUGA:
"Tingkat acidity dan bodynya medium-lah tidak terlalu asam dan kental. Selain itu juga rasa cacao yang cukup kuat," jelas Irvan.
Dibalik rasanya yang unik, para petani kopi dogiyai ternyata menghadapi sejumlah kendala sehingga sulit untuk mengembangkan usaha mereka.
"Solusinya, mereka harus mendapatkan pengetahuan yang merata. Ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas produk. Kendala lainnya adalah akses keuangan yang sangat minim. Mereka kan butuh uang untuk modal hidup setelah panen, karena mereka harus menunggu musim panen lagi di tahun mendatang," tukas co-founder Anomali Coffee ini.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.