Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Primadona dari Tanah Papua Itu Bernama Dogiyai, Secangkir Kopi Kental tapi Rasanya Mild

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Minggu, 27 Agustus 2017 |06:00 WIB
OKEZONE WEEK-END: Primadona dari Tanah Papua Itu Bernama Dogiyai, Secangkir Kopi Kental tapi Rasanya <i>Mild</i>
Kopi papua (Foto: Ilustrasi/Ist)
A
A
A

BERDASARKAN letak geografisnya, tidak mengherankan jika Indonesia menjadi salah satu produsen kopi terbesar di dunia. Berbagai produk kopi nusantara seperti Kopi Mandailing dari Sumatera Utara, Kopi Gayo dari Aceh, hingga Kopi Toraja sudah dikenal di kancah internasional.

Selain Pulau Sumatera, Jawa, dan Sulawesi, ternyata ada salah satu daerah di timur Indonesia yang juga memproduksi kopi berkualitas yakni, Papua. Bagi para pencinta kopi nusantara mungkin sudah familiar dengan Kopi Wamena. Varietas kopi ini memang cukup dikenal karena memiliki karakter rasa yang sangat khas.

Selain Kopi Wamena, beberapa waktu lalu muncul lagi primadona kopi dari Tanah Papua yakni, Kopi Dogiyai. Kopi ini berasal dari daerah Moanemani, tepatnya di Desa Mapia, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

BACA JUGA:

OKEZONE WEEK-END: Efek Samping Seruput Kopi Berlebihan, Meningkatkan Risiko Insomnia hingga Asam Urat

OKEZONE WEEK-END: Komunitas KOPI KOE, Wadah Berbagi Ilmu Seputar Kopi Nusantara

Menurut Irvan Helmi Co-Founder sebuah gerai kopi, asal usul Kopi Dogiyai sudah tercatat sejak 1975.

"Kalau tahun 1975 sudah tercatat, berarti bibit kopi ini diduga merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda. Popularitasnya memang kalah dengan varietas kopi lainnya, mungkin karena pada saat itu Pemerintah Indonesia atau masyarakat lokal belum fokus untuk mengembangkan kopi tersebut," tutur Irvan saat dihubungi Okezone via telepon, Jumat 25 Agustus 2017.

Jika ditelisik lebih jauh, tanah Papua memang sangat ideal ditanami kopi jenis arabika karena dikelilingi oleh lereng-lereng gunung yang ketinggiannya mencapai 1.900 - 2.000 meter dari atas permukaan laut.

"Dulunya di kawasan Dogiyai itu sempat berdiri semacam estate yang cukup luas. Namun setelah Indonesia merdeka, kawasan ini tidak terurus dan malah jadi hutan yang dipenuhi pohon-pohon pelindung. Hal ini justru menjadi semacam blessing in disguise, karena hutan ini menjadi lebih self sustain," jelas Irvan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement