Sebuah riset yang dilakukan pada tahun 2002 oleh Joe Verghese, seorang profesor dari Saul R Korey Department of Neurology dan Department of Medicine di Albert Einstein College of Medicine, menunjukkan bahwa kecepatan orang berjalan dapat memprediksi seberapa besar risikonya terkena demensia ke depannya, yang ditandai dengan pikun.
Riset lainnya dilakukan oleh Andrea Rosso, seorang asisten profesor epidemiologi di University of Pittsburgh. Untuk meneliti hubungan kecepatan orang berjalan dengan risiko demensia, ia mengumpulkan sebanyak 175 orang berusia 70 hingga 79 tahun. Mereka diminta berjalan seperti biasanya di atas lintasan sepanjang 5,4 meter, sementara para peneliti menggunakan stopwatch untuk mengukur waktunya.
Riset tersebut menemukan bahwa peningkatan risiko terhadap kepikunan dan demensia bisa berbeda antar orang yang memiliki kecepatan jalan juga berbeda. Misalnya, Anda berjalan lebih cepat daripada teman Anda. Peluang Anda terkena demensia saat tua nanti lebih kecil daripada teman Anda. Tapi tentu kesimpulannya tak sesederhana ini — akan dijelaskan dengan lebih rinci di bawah.
Sebuah riset lain pada tahun 2013 juga menunjukkan hal tersebut. Riset ini diikuti 93 partisipan yang berusia antara 54 hingga 70 tahun. Hasilnya, orang-orang yang jalannya lambat memiliki peningkatan risiko penurunan kognitif otak hingga sembilan kali lipat dibandingkan dengan mereka yang berjalan lebih cepat. Kecepatan jalan partisipan diukur dengan menggunakan sensor infrared di rumahnya selama tiga tahun. Partisipan juga secara rutin diberikan informasi-informasi baru untuk diingat untuk kemudian dites daya ingatnya secara berkala.
Cara jalan yang lambat menunjukkan adanya penurunan fungsi otak