ISTILAH helikopter parenting kini tengah menjadi perdebatan. Sebagian orangtua bersikukuh menganggap itu benar, sebagian lainnya tidak sepakat dengan model pengasuhan tersebut.
Helikopter parenting adalah gaya pola asuh di mana orangtua berusaha dapat selalu melindungi anak. Mereka ingin anak mendapatkan yang terbaik dengan cara terlibat dengan kehidupan anak di setiap lini.
Sayangnya, berdasarkan pendapat psikolog anak, Ann Dunnewold Ph. D., keterlibatan orangtua tersebut justru mengarah ke overcontrolling, overprotecting, dan overperfecting. Secara garis besar disebut, overparenting.
Baca Juga: Serunya Punya Anak Perempuan, Ibu Bisa Jalin Ikatan Lebih Erat seperti Sahabat
Efeknya bisa dirasakan anak ketika memasuki bangku kuliah. Di mana mereka tinggal di asrama atau kos yang berjauhan dari orangtua. Saat situasi seperti itu, kemungkinan besar orangtua akan berurusan dengan emosi kompleks dikala melepas anak pergi. Orangtua akan menelefon anak setiap saat, mengirim pesan, atau video call setiap pukul 19.45
Moms, berhati-hatilah, sebuah studi baru memperingatkan bahwa orangtua yang overprotective tidak hanya membuat anak tak berkembang menjadi pribadi dewasa mandiri, tapi juga dapat membuat mereka depresi dan cemas.
Studi di Florida State University, yang diterbitkan dalam Journal of Child and Family Studies, peneliti meminta 460 mahasiswa untuk membayangkan skenario yang berbeda, seperti konflik dengan teman sekamar. Para mahasiswa diminta memberi jawaban, bagaimana respon dari ibu ketika anak menghadapi masalah itu.
Maukah ibu mendukung anak menyelesaikannya sendiri? Atau apakah ibu akan ikut campur? Periset juga meminta mahasiswa menilai seberapa baik mereka dapat menangani masalah rumit.
Baca Juga: Tampak Bahagia, tapi Sebenarnya Ibu Alami Sekelumit Masalah ketika si Kecil Mulai Masuk TK
Hasilnya, periset menemukan bahwa siswa yang lebih mandiri melaporkan kepuasan hidup lebih tinggi. Mereka juga tampaknya menangani situasi sulit dengan baik dan memiliki kesehatan fisik yang lebih baik. Mereka memiliki orangtua yang memberi kebebasan ketika anak harus menangani tugas dan membuat keputusan sulit.
Sementara, anak yang diasuh dengan metode helikopter parenting, cenderung melaporkan banyak mengalami kecemasan dan depresi, serta menurunya kepuasan hidup dan masalah kesehatan.
Menurut Mallory Lucier-Greer sang peneliti, interaksi orangtua dengan anak-anak memainkan peran besar tentang bagaimana anak memandang kemampuan mereka sendiri.
"Jika orang tua hanya bersikap mendukung, mereka mengatakan hal-hal seperti ‘Kamu bisa mengelola keuangan, kamu bisa memilih jurusan yang disukai', anak bisa melakukannya dengan baik. Saya pikir ada niat baik di balik perilaku helikopter tersebut, namun pada akhirnya perlu mengembangkan perkembangan anak,” uajarnya seperti dilansir Realsimple, Senin (28/8/2017).
(Vien Dimyati)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.