Takatoshi Asari, staf divisi pariwisata dan perencanaan desa, mengungkapkan, saat itu "seorang karyawan melihat sebidang sawah di halaman sekolah dasar yang ditanami padi dengan warna kuning, ungu dan hijau, dengan pola bergaris. Lalu dia berpikir, 'Bagaimana jika kita menanami sawah dengan tiga warna padi sehingga tercipta gambar dengan teks?' Ketika itu kita belum memikirkan konsep seni apapun."
Ketika saya bertanya kepada pemandu wisata saya Hiroki Fukushi, "Kenapa padi?", dia menjawab: "Desa kami tidak memiliki apapun kecuali sawah. Jadi kami berpikir, ayo apa yang bisa kita lakukan terhadap sawah kita."
Di desa terpencil, dengan penduduk sekira 8.000 orang, menanam padi merupakan mata pencaharian utama. Beras telah dibudidayakan di wilayah ini selama sekitar 2.000 tahun.
Dan simbol resmi untuk Desa Inakadate adalah Inenohana, atau bunga padi, sementara lagu desa ini menggambarkan tentang bunga padi.
Pada tahun pertama, 100-an orang warga desa membantu menanam padi. Hasilnya, lukisan sederhana berupa gunung dan sebaris kata-kata 'Rice Culture Village Inakadate' dalam aksara Jepang.
Ketika itu hanya sedikit orang yang melihat. Menyadari diperlukan karya seni yang lebih menarik, "setiap tahun, kami membubuhkan lebih banyak warna pada tunas padi dan meningkatkan teknologi agar karya seninya lebih keren," kata Asari.
Atsuhi Yamamoto, guru seni di sekolah desa, kemudian diberi tanggung jawab untuk merealisasikan rencana-rencana itu. "Tante saya bekerja di gedung pertemuan desa. Pada tahun Heisei 15 (2003), ada rencana untuk membuat karya seni padi berupa Mona Lisa, tetapi rumit," jelasnya.