Kami berkeliling-keliling necropolis alias kawasan makam ini, melongok ke dalam dan keluar makam, menyentuh batu purba yang dingin, tak tahu lagi berada di zaman apa. Beberapa jam kemudian kami naik mobil lagi dan menuju timur laut ke Jabal Ithlib, sebuah struktur monumental yang dibangun dengan membelah bukit batu yang diyakini merupakan tempat suci untuk penyembahan dewa Dushara, yang dipercaya kaum Nabath sebagai Penguasa Gunung-gunung.
Dinding tebing yang kasar di sebuah siq, lorong sempit yang terbentuk secara alamiah setinggi 40m menuju ke Jabal Ithlib, dihiasi dengan persembahan untuk dewa-dewa kaum Nabath yang diukir pada karang, dan petroglif (pahatan dinding) berbentuk unta dan pedagang.
Ahmed menunjuk serangkaian kanal yang pernah menyalurkan air ke sumur-sumur penampungan- contoh kemampuan Nabatean untuk memanipulasi aliran hujan dan akuifer atau rongga bawah tanah yang mengandung air.
Kami berangkat menyusuri lereng tenggara Jabal Ithlib, mendaki Gunung Ethleb. Mengenakan busana wajib abaya hitam, pengalaman ini adalah sesuatu yang menantang.
Pendakian susah payah saya menuju ke puncak terbukti tidak sia-sia. Kami menghadap ke barat ke dataran yang luas, dan saya membayangkan para pedagang dan unta-unta sedang bergerak menuju Madain Saleh, dengan keranjang-keranjang penuh kemenyan. Bongkah kehitaman ini yang diambil dari pohon Boswellia yang suci, sangat berharga karena langka. Mereka pasti dikirim untuk para hartawan terkaya di Roma, Yunani, Mesir dan Israel.
Saat matahari terbenam di bawah cakrawala, kami melaju kembali ke pinggiran kota kuno, mampir ke sebuah kompleks makam. Kami membentangkan karpet bermotif cerah di atas pasir, minum kopi Arab dan mencicipi mammoul, biskuit tradisional yang diisi kurma.
Di depan kami, makam-makam batu pasir Madain Saleh berkilau keemasan dengan sisa-sisa cahaya matahari terakhir. Keheningan menggantung di sekitar kami seperti selimut tebal, saat warna gurun perlahan memudar ke arah kegelapan. Demikian seperti dikutip BBC. (fid)
(Hessy Trishandiani)