Selagi kami berkendara menuju Madain Saleh yang berjarak 40km ke arah utara dari hotel kami, Ahmed berkisah tentang orang-orang Nabath, yang kekayaan dan kejayaannya diraih berkat kemampuan mereka untuk mencari dan menyimpan air di lingkungan gurun yang begitu ganas.
Mereka juga memonopoli jalur perdagangan gurun antara Madain Saleh di barat daya dan pelabuhan Gaza di Laut Tengah atau Laut Mediterania di sebelah utara. Mereka menarik pajak dari iring-iringan unta - yang mengangkut wewangian, dupa, dan rempah- yang berhenti di pos terluar mereka untuk meminta air dan mengaso.
Namun pada tahun 106 Masehi, Kerajaan Nabath dijajah oleh Kekaisaran Romawi, dan jalur Laut Merah mengambil alih jalur perdagangan darat. Kota-kota Nabath tak lagi jadi pusat perdagangan, dan mulailah era kemunduran dan penelantaran habis-habisan.
Terkucil di tengah padang pasir, sekarang Madain Saleh adalah tempat yang terasing, sunyi, dan terawat secara menakjubkan. Sebagian besar kota itu masih terkubur di bawah lapisan pasir.
Yang telah ditemukan sejauh ini adalah sebuah pemakaman luas yang terdiri lebih dari 131 makam besar. Mulanya, skala dan jumlah makam itu terasa luar biasa.
Tapi saat kami melihat lebih dekat, keterampilan seni kaum Nabath terlihat melalui ukiran elang yang melesat, sphinx dan grifon (hewan mitologi setengah anjing-setengah elang) yang berbulu, belum lagi ukiran prasasti rumit.
Kami berhenti di depan sebuah makam, yang prasastinya diterjemahkan sebagai 'Hany bin Tansy ... dan para keturunan,' dan diakhiri dengan tanggal dan nama: '31 April 31M dipahat oleh Hoor ... sang pematung.'
Prasasti-prasasti makam memberikan informasi tentang nama, hubungan, pekerjaan, aturan dan Tuhan dari orang-orang yang tinggal di sini. Orang Nabath tidak terlalu banyak meninggalkan sejarah tertulis, jadi naskah-naskah ini, yang hanya ada di Madain Saleh, sangat luar biasa.