MADAIN Saleh memang tidak terlalu terkenal seperti halnya Petra, tapi inilah kota terbesar kedua bangsa Arab kuno, Nabath, yang memainkan peran penting dalam kerajaan misterius itu. Simak penjelajahan di kota kuno Arab Saudi pra-Islam tersebut.
Seperti biasa, penerbangan Saudia Airline dari Riyadh ke Madinah dimulai dengan pembacaan doa.
"Ibu-ibu dan bapak-bapak," kata awak penerbangan lewat interkom. "Bacaan yang akan segera Anda dengar ini adalah doa yang selalu dipanjatkan sebelum Nabi Muhammad Salalhahu Allaihi Wasssalam berpergian."
Sisanya adalah bahasa Arab. Saya mendengar rekaman suara yang bernada lirih dan rendah itu, selagi menatap gurun yang tak ada ujungnya, melalui jendela kecil.
Saya pergi bersama kawan-kawan menuju Madain Saleh, destinasi kota gurun tersembunyi Arab Saudi. Banyak orang yang sudah mendengar Petra, Ibu Kota bangsa Arab kuno, Nabath, di Yordania. Namun Madain Saleh, kota kedua terbesar bangsa Nabath dan sebuah situs warisan dunia versi UNESCO, masih tidak banyak diketahui.
Kota yang dulu begitu hidup seiring dengan ramainya jalur rempah kuno ini memainkan peran penting dalam membangun kerajaan yang hidup dari perniagaan itu. Tetapi sekarang, makam-makam di dinding batu yang monumental adalah salah satu peninggalan terakhir -dan paling terawat- kerajaan yang hilang itu.
Dari Madinah, kami berkendara empat jam menuju kota oasis Al Ula, dan kemudian melanjutkan perjalanan lebih jauh menuju hotel kami di Provinsi Hejaz.
Pemandu wisata kami, Ahmed, menemui kami keesokan paginya setelah sarapan. Dia berperawakan tinggi, sedikit berjanggut dan memakai thobe, jubah tradisional Arab dan ghutra sorban tradisional, berwarna merah. Sembari tersenyum, dia mengatakan pada kami bahwa dia belajar bahasa Inggris di Selandia Baru.