Being Journalist is Not in My Blood?
Di tengah kesibukannya sebagai seorang jurnalis, Ira tak lupa untuk mewujudkan keinginannya melanjutkan kuliah S2. Berturut-turut pada 1999 hingga 2001, Ira berhasil meraih dua gelar Master di dua perguruan tinggi berbeda di Inggris. Pertama, master di bidang film dan produksi televisi dari Universitas Bristol dan master di bidang jurnalistik internasional dari Universitas Westminster.
Sebelum menjadi moderator debat Pilgub DKI 2017, Ira sudah pernah menjadi moderator debat Pilpres 2004. Acara tersebut merupakan yang terakhir kali dipandu Ira sebelum akhirnya memutuskan mundur dari dunia pertelevisian lantaran ingin mengembangkan usahanya di bidang jasa strategi komunikasi terpadu, yang diberi nama Ira Koesno Communications (IKComm).
“Setelah merenung dan mendengarkan beberapa teman untuk meminta petunjuk, akhirnya saya sadar bahwa passion dan minat saya bukan menjadi jurnalis, tetapi lebih ke media dan komunikasi,” ujar Ira.
(Foto: Heru / Okezone)
“Being journalist is not in my blood, ibaratnya kalau mau menjadi jurnalis maka passion-nya menjadi jurnalis. Tetapi, setelah saya renungkan passion saya lebih ke medianya. Tahun 2006 saya bentuk IKComm, awalnya adalah production house (PH) tetapi saya jadikan IKComm karena banyak yang minta jasa konsultan strategi komunikasi bukan PH. Jadi, saya sudah mantap dengan dunia ini, jika diminta kembali lagi seratus persen nampaknya tidak bisa, karena bukan itu yang saya inginkan dalam hidup saya,” terangnya.
Ya, sejak mundur dari dunia pertelevisian, peraih gelar Panasonic Gobel Award untuk kategori presenter berita terfavorit, ini mengaku menjadi lebih pemilih terhadap beragam tawaran program televisi yang ditujukan padanya. Apalagi sejak kembali muncul di televisi menjadi moderator debat perdana Pilgub dua bulan lalu, dirinya memang mendapat banyak tawaran pekerjaan di bidang televisi.
“Ada beberapa (program-red), tetapi dengan kesibukan sekarang enggak mungkin ambil lebih dari satu (program-red). Saya sedang menimbang-nimbang, hati saya akan berlabuh di mana, mana yang saya pilih,” kata Ira.
Ira mengungkapkan dirinya tak ingin sembarang memilih program televisi yang ditawarkan. Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi pertimbangan dirinya dalam memilih program televisi. Pertama, adalah perihal audiens atau penonton dari stasiun televisi tersebut.
“Audiens televisi itu sesuai tidak dengan segmen yang hendak dibidik oleh kantor? Sekarang saya memikirkannya ke arah situ, jadi win-win solution, saya bisa muncul di televisi sekaligus menjadikannya sebagai outlet untuk memasarkan kantor,” terang Ira.
Kedua, terkait alokasi waktu dan tenaga. Di mana Ira tak ingin konsentrasinya lebih banyak terserap untuk program televisi karena membuat urusan kantor menjadi terbengkalai. Terakhir adalah perihal dukungan tim kerja internal.
“Tiga hal ini yang membuat saya memilah program televisi mana yang saya harus ambil, jadi masih menimbang-nimbang. Mungkin yang ‘mendekati’ saya juga sedang memikirkan format program seperti apa yang cocok dan sesuai dengan kemauan saya. Mereka tentu mencoba memberikan tawaran format yang terbaik mengingat saya hanya ingin mengambil satu program,” tuturnya.