Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tetap Cantik, Ini Sepak Terjang Ira Koesno di Jurnalistik

Annisa Amalia Ikhsania , Jurnalis-Selasa, 14 Maret 2017 |17:30 WIB
Tetap Cantik, Ini Sepak Terjang Ira Koesno di Jurnalistik
Ira Koesno (Foto: Heru / Okezone)
A
A
A

SIAPA yang tak mengenal nama Ira Koesno, seorang news anchor yang namanya berjaya di era 90-an. Sosok Ira Koesno mulai dikenal akrab oleh masyarakat ketika menggeluti profesi di bidang jurnalistik. Pemilik nama lengkap Dwi Noviratri Koesno itu biasa menyapa pemirsa melalui program siaran berita di sebuah stasiun televisi swasta.

Sempat hilang dari layar kaca, Ira Koesno kembali hadir menyapa masyarakat, tepatnya pada Jumat, 13 Januari 2017. Ia didapuk menjadi moderator debat perdana Pilgub DKI Jakarta 2017. Sejak itu, namanya pun sempat menjadi perbincangan publik di media sosial.

Sepak Terjang di Jurnalistik

(Foto: Heru / Okezone)

Finance dan menulis seolah menjadi dua hal favorit dalam hidupnya. Selesai mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Ira sempat bekerja menjadi seorang akuntan di perusahaan auditor bernama KPMG Hanadi Sujandro. Pekerjaan tersebut ia lakoni selama kurang lebih satu tahun lamanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dunia jurnalistik.

“Setelah satu tahun bekerja sebagai akuntan, saya mulai berpikir untuk melanjutkan studi S2. Saya berpikir studi S2 adalah sesuatu yang kurang lebih menunjang pilihan karir kita ke depan. Saya suka akuntasi, finance, tetapi saya juga punya minat yang lain, yaitu menulis. Saya sempat berpikir, apa betul ya saya ingin menjadi akuntan atau justru ingin eksplorasi,” tutur Ira Koesno yang ditemui Okezone secara eksklusif di kawasan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Seolah ditunjukkan jawaban oleh Yang Maha Kuasa, Ira sempat membaca koran dan menemukan lowongan pekerjaan sebagai reporter di beberapa stasiun televisi. Wanita kelahiran Jakarta, 30 November 1969 itu pun langsung mendaftarkan diri. Tak memerlukan proses yang panjang, Ira pun akhirnya diterima sebagai reporter sebuah stasiun televisi swasta.

“Saya sempat menjadi reporter di lapangan dulu, tetapi saya punya kemewahan ketika berada di lapangan tidak memerlukan waktu yang lama karena kekurangan human resource untuk tampil di layar. Nah, saya katanya dianggap bisa, jadi saya menjadi reporter iya, tampil di layar juga iya. Saat itu, belum banyak human resource yang cukup mumpuni, begitu ada program televisi langsung ditawarin jadi presenter,” ungkapnya.

Sama seperti profesi jurnalis pada umumnya, Ira juga merasakan suka duka melakukan peliputan di lapangan dan melakukan wawancara dengan sederet narasumber ternama. Mulai dari meliput langsung peristiwa darurat militer di Aceh hingga pengalaman yang sulit ia lupakan, yakni ketika mewawancarai mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja pada tahun 1998.

Ira bersama jajaran lainnya dipanggil oleh salah seorang pemegang saham stasiun televisi dan keluarga Cendana. Masalahnya berawal dari istilah ‘cabut gigi’ yang kala itu dilontarkan oleh Sarwono, di mana istilah tersebut merujuk pada arti yang meminta Soeharto (Presiden RI kala itu) untuk mundur.

“Waktu itu hari Minggu dan yang namanya berita kan sepi banget, pasukan di lapangan pun enggak banyak. Jadi, kita ada waktu satu jam dan sebagai jurnalis kalau ada narasumber bagus ya jangan dilepas. Awalnya kita sudah janjian, tetapi ia malah mengancam tidak mau tampil jika tidak diperbolehkan melontarkan istilah tersebut. Kami pun mencoba membujuk, ‘Boleh deh Pak ngomong begitu tetapi ngomongnya background dulu jadi orang yang nonton akan mengerti, jangan langsung bilang cabut gigi’, narasumber bilangnya ‘Iya, iya’. Tetapi, di akhir segmen satu omongan itu sudah keluar,” kenang Ira.

Selain peristiwa tersebut, selama menjadi jurnalis Ira juga merasa terkesan ketika ditugaskan ke Aceh untuk program embedded journalist pasca rekonsiliasi pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Waktu mau ke Aceh, para jurnalis yang mau berangkat kan dikumpulkan untuk melakukan pelatihan seperti militer, saya termasuk di dalamnya. Saat itu lagi tren embedded journalist. Begitu dikirim ke Aceh, isunya ternyata jurnalis yang dilatih itu akan menjadi sasaran tembak GAM Aceh karena menurut mereka embedded journalist layaknya mata-mata atau intel. Padahal kan bukan itu, kami dilatih untuk siap dengan kondisi di lapangan. Itu juga berkesan,” ungkapnya bersemangat.

Dikenal sebagai presenter dengan gayanya yang lugas, kritis, namun cerdas, Ira sadar betul jika hal tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra. Namun, Ira mengaku tidak mau terlalu ambil pusing dengan segala kritik dan komentar yang ditujukan padanya.

“Kalau ada yang mengkritik, saya perhatikan kritiknya, kalau benar saya coba perbaiki. Kalau haters, ya sudah oke saja, enggak mau diambil hati. Sebenarnya saya juga mengucapkan terima kasih karena dengan mengkritik sebenarnya mereka sudah memerhatikan juga, tetapi saya mohon maaf enggak akan mengambil apa yang kamu katakan,” katanya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement