SEPINTAS ketika melewati Jalan Raya Raden Saleh, Cikini suasana biasa aja layaknya jalanan umum. Tetapi, di sana ada Rumah Sakit PGI Cikini yang punya nilai sejarah lho.
Dulu, bangunan Rumah Sakit ini merupakan rumah seorang pelukis Raden Saleh dari tahun 1875-1885. Lalu, pada tanggal 12 Januari 1895, rumah tersebut dibeli oleh sepasang suami istri Dominee Cornelis de Graaf dan isterinya Adriana J de Graaf Kooman dengan nama Vereeniging Voor Ziekenverpleging In Indie atau perkumpulan orang sakit di Indonesia.
Dana untuk membeli rumah tersebut merupakan hasil sumbangan Ratu Emma (Ratu Belanda) saat itu dengan harga 100 ribu gulden. Sejak membeli "istana" Raden Saleh ini, rumah menjadi pusat pelayanan kesehatan bagi semua orang, tidak pandang suku mau pun juga status sosial.
Lalu, di tahun 1913 rumah ini berubah nama menjadi Rumah Sakit Tiikini tanggal 1 Agustus. Kemudian, setelah kemerdekaan 1945 - 1948 rumah tersebut berubah menjadi Rumah Sakit Kaigun (Angkatan Laut Jepang) saat masa pendudukan Jepang. Dengan pengelola ditangani oleh RAPWI.
Kemudian di tahun 1948 RS Cikini dipegang oleh R.F. Bozkelman dengan nama Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini diserahkan kepada DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia) dengan pimpinan Prof. Dr. Joedono.