SALAH satu penyakit endemik yang ditakuti di musim hujan adalah demam berdarah. Penyakit ini sudah terkenal di negara-negara yang beriklim tropis.
Pasien demam berdarah yang tak ditangani segera dapat menyebabkan pendarahan parah hingga kematian. Mengapa bisa terjadi demikian?
Sebuah tim penelitian yang dipimpin oleh Jeffrey Ravetch menemukan, terdapat hubungan antara antibodi pelindung yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh ketika demam berdarah diidap pasien untuk kedua kalinya.
Menurut Revtech, bila tubuh pasien tidak mampu mentralisir virus, antibodi akan diikat oleh virus dan memperparah demam berdarah tersebut.
"Bisa terjadi karena antibodi benar-benar mengikat virus, bukannya menghilangkan virus. Antibodi betu-betul membantu virus untuk menginfeksi sel," jelasnya.
Sebenarnya, vaksinasi DBD dapat diberikan sebagai langkah awal pencegahan penyakit musiman ini. Saat ini vaksin yang dapat menangkal virus DBD adalah Dengvaxia. Namun, vaksin tersebut hanya 60 persen efektif melindungi manusia dari virus demam berdarah.
Dalam beberapa kasus, vaksin tersebut memberi pengaruh yang parah. Perkembangan bakteri yang terjadi dapat mencetuskan terjadinya hemoragik atau pendarahan pada jaringan otak dan mengancam jiwa mereka, terutama ketika pasien telah terinfeksi demam berdarah.
Revtech mengutarakan rasa penasarannya, apakah antibodi ini akan menjadi 'sakit' ketika seseorang memperoleh vaksin tersebut. Membutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan dari kepala genetika molekuler dan laboratorium imunologi dari Universitas Rockefeller, New York. Demikian dilansir dari laman VOANews, Kamis (2/2/2017).
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.