Roy membuka toko Victoria Secret pertama kali di daerah Palo Alto, California. Nama Victoria Secret sendiri ia ambil dari nama seorang ratu, yakni Queen Victoria yang pada era itu menjadi salah satu ikon wanita dan fashion paling terkenal. Kala itu Roy mendesain toko pertamanya tersebut dengan menerapkan konsep “seduction” atau sesuatu yang menggoda. Dengan interior ruangan yang menggunakan sentuhan-sentuhan kayu berwarna gelap, hingga sofa-sofa velvet warna merah. Namun sayangnya di balik ide genius Roy ini, pada faktanya ia kurang bisa mengeksekusinya dengan baik karena hanya berfokus pada koleksi-koleksi pakaian dalam yang hanya cocok atau pas dikenakan saat wedding night atau malam pertama. Hingga akhirnya tidak mengherankan, bisnis Roy sempat mengalami penurunan.
Setelah melihat bisnis yang ia lakoni tidak mengalami peningkatan yang signifikan, Roy akhinya memutuskan untuk mencoba menghadirkan koleksi-koleksi lain. Seperti bra-bra yang hadir dalam wujud aneka warna yang lebih eye-catching, dan fun yang ditambah dengan detail desain yang dibuat menggoda lewat pengaplikasian renda-renda atau laces. Kemudian Roy membuat aneka katalog produk Victoria Secret, yang tentunya pada masa itu merupakan media promosi yang sangat efektif untuk menjangkau para calon pelanggan. Metode yang ditempuh Roy terbukti sukses, hal ini terlihat dengan berhasilnya ia membuka tiga toko cabang sekaligus yang berlokasi di Bay Area pada 1982. Ditambah dengan peraihan pendapatan tahunan yang menyentuh nilai lebih dari USD4 juta atau sekira Rp53,3 milyar. Nilai yang sangat bombastis bukan pada masa itu?
Salah Strategi Marketing, Awal Kehancuran Bisnis Lingerie
Namun sayangngya masa gemilang ini hanya sebentar saja dinikmati oleh Roy, pasalnya tidak lama kemudian ia harus menelan pil pahit dengan mengalami kebangkrutan yang diakibatkan karena penerapan teknik marketingnya yang kurang tepat. Selama menggawangi bisnis Victoria Secret, Roy diketahui terlalu fokus menyasar pelanggan pria hingga akhirnya Roy pribadi lupa dengan prinsip dasar bahwa pakaian dalam wanita itu sebetulnya akan tetap lebih banyak dibeli oleh wanita itu sendiri, bukan oleh pasangannya. Karena sebetulnya sebagaimana pun para pria mengenal luar dalam pasangannya, tetap saja pria tidak akan pernah mengerti secara menyeluruh soal seluk-beluk barang-barang fashion yang dikenakan oleh para wanita.
Memfokuskan diri dan bisnis Victoria Secret ini hanya kepada target market pria, yang notabene secara otomatis secara perlahan menyingkiran konsumen utama yakni para wanita itu sendiri dianggap jadi faktor penyumbang terbesar mengapa akhirnya Roy mengalami kebangkrutan. Tidak mampu lagi melakoni bisnis lingerie ini, akhirnya di tahun yang sama Roy akhirnya memutuskan untuk menjual perusahaan Victoria Secret miliknya tersebut kepada Leslie Wexner, seorang pengusaha di lini pakaian olahraga dengan nilai jual USD1 milyar atau sekira Rp13 trilyun.
Pemilik Baru Temukan Strategi Branding Terbaik