LINGERIE sebagai pakaian dalam, tidak bisa dilepaskan dari aspek kehidupan sehari-hari seorang wanita. Baik itu yang masih berstatus lajang ataupun yang sudah berkeluarga.
Biasanya yang kerap terlihat di sebuah butik atau toko lingerie, tentunya adalah para wanita. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit para pria yang akhirnya juga ‘harus’ memasuki toko lingerie untuk sekedar membeli koleksi lingerie yang ditujukan untuk pasangan tercinta.
Bagi kaum Adam, memasuki toko lingerie tidak bisa dipungkiri mungkin bisa dibilang tidak ada bedanya dengan ketika memasuki zona wilayah perang. Canggung dan aneh adalah situasi yang dialami oleh pria ketika berada di toko lingerie, mulai dari melihat-lihat koleksi lingerie yang penuh renda dengan aneka warna, sampai pada situasi harus berhadapan kepada para petugas wanita yang biasanya berpakaian minim.
Situasi yang diuraikan di atas lah yang kurang lebih menjadi latar belakang seorang pria bernama Roy Raymond, untuk mewujudkan suatu toko atau tempat yang nyaman untuk membeli lingerie. Jika mendengar nama Roy Raymond, kebanyakan orang awam tidak terlalu familiar. Tetapi jika menyebut kata Victoria Secret, semua orang di dunia ini rasanya sudah sangat mengenal dekat. Ya, Roy Raymond lah ternyata sosok di balik berdirinya lini lingerie raksasa dunia dengan pendapatan milyaran dolar ini.
Ingin Pria juga Nyaman Berbelanja Lingerie untuk Pasangan
Seperti yang sudah sempat disinggung di atas, pengalaman canggung ketika berada di sebuah toko lingerie saat hendak membelikan sang istri sepasang koleksi lingerie inilah, yang menginspirasi Roy untuk mewujudkan toko lingerie yang tidak hanya nyaman dan menarik bagi kaum Hawa tetapi juga untuk para pelanggan pria pada umumnya. Setelah mengalami situasi canggung ketika hendak membelikan lingerie untuk sang istri, sontak Roy yang berstatus sebagai lulusan magister jurusan bisnis Universitas Stanford ini mendirikan Victoria Secret pada 1977.