BANTUL - Dari total 37 desa wisata yang ada di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sebanyak 21 desa wisata masih belum berkembang. Kebanyakan desa wisata itu tergolong sebagai desa wisata embrio.
Hal itu diakui oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul, Bambang Legowo. Ia mengatakan, desa-desa wisata itu belum berkembang atas dasar indikator jumlah kunjungan.
Kendati tak menyebutkan angka persis jumlah kunjungannya, Bambang memastikan, 21 desa yang masih tergolong desa wisata embrio itu belum menunjukkan progres yang menggembirakan. Desa-desa itu belum mampu mengembangkan wilayah mereka dengan baik.
“Sehingga mereka pun kesulitan dalam menjaring pengunjung lebih banyak,” katanya, seperti dikutip dari Harianjogja.com, Selasa (22/11/2016).
Secara keseluruhan, ada tiga indikator yang menjadi dasar pengklasifikasian desa wisata tersebut. Ketiga faktor di antaranya adalah adanya atraksi rutin, tingkat kelaikan sarana dan prasarana desa wisata, serta ketersediaan home stay.
Khusus terkait home stay, Bambang mengaku, sebagian besar dari desa wisata yang sulit berkembang itu disebabkan tidak adanya home stay di desa tersebut. Kalaupun ada, home stay itupun tidak bersifat tetap.
“Artinya, ketika ada pengunjung, barulah warga desa bingung mempersiapkan home stay,” ujarnya.
Oleh karena itu, tahun anggaran 2017 mendatang, pihaknya berencana akan mengajukan anggaran lebih dari Rp200 juta untuk pengembangan desa wisata. Tahun ini, anggaran yang dimilikinya memang masih sangat terbatas untuk mengembangkan 37 desa wisata.
Selama ini, anggaran yang dimilikinya hanya digunakan untuk pendampingan dan pembekalan terhadap mereka saja.
“Anggaran kami maksimal hanya Rp200 juta. Jadi tidak mungkin kalau kami memberikan bantuan kepada mereka (desa wisata),” ujarnya.
Terpisah, Pengelola Desa Wisata Kaki Langit, Desa Mangunan, Purwanto mengakui, tak mudah mengembangkan desa wisata. Selain persoalan anggaran, penyatuan visi di kalangan warga diakuinya juga kerap menjadi kendala.
Itulah sebabnya, perubahan pola pikir masyarakat harus diubah. Dikatakannya, pola pikir tentang keterkaitan antara pariwisata dan peningkatan perekonomian harus menjadi dimiliki oleh seluruh warga tanpa terkecuali.
Begitu juga dengan home stay, saat ini, di desa wisatanya setidaknya sudah terdapat 32 kamar dan 16 rumah komunal yang siap digunakan pengunjung. Tak hanya itu, kini pihaknya pun berencana akan menambah setidaknya 20 unit home stay lagi guna menjaring lebih banyak pengunjung.
“Selain home stay, sebenarnya kami juga meawarkan beberapa paket wisata yang jadi unggulan desa wisata kami,” terangnya.
(Fransiskus Dasa Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.