Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menelusuri Sejarah Tato di Mentawai

Tentry Yudvi , Jurnalis-Selasa, 15 November 2016 |15:45 WIB
Menelusuri Sejarah Tato di Mentawai
Kehidupan Suku Mentawai (Foto: Lars Krutak)
A
A
A

SUKU Mentawai menjadikan Indonesia terkenal karena kekayaan budaya dan tradisi yang masih dipertahankan dari zaman nenek moyang.

Mengenal lebih dalam suku Mentawai ternyata seru juga, apalagi pembuatan tato di sana yang dinilai tradisional dan ekstrim ini membuat banyak turis Asing penasaran untuk melihat proses tato.

Secara tradisional, tato dibuat setelah upacara adat bernama Punen Lepa. Upacara ini diadakan untuk mengusir pengaruh iblis dari darah yang dicucurkan di desa atau Umas (rumah mereka). Sebuah beranda sudah disiapkan di sana untuk membuat darah tertampung dan tidak jatuh ke lantai.

Berdasarkan legenda, tato ini dikenalkan oleh Pagete Sabbau seorang dukun pertama di Mentawai yang mengjarkan segala hal yang mereka tau hingga kini.

Tetapi, orang menjadi cemburu karena kemampuan sihirnya sehingga akhirnya membunuhnya. Teteu atau orang kala itu membunuhnya dengan membiarkan kepalanya di bawah saat digali dan kejadian tersebut menghadirkan gempa bumi yang menghancurkan Uma pertama mereka.

Sehingga untuk membuang bencana, orang Mentawai memulai untuk memberikan pengorbanan manusia untuk menghargai tradisi kakek moyangnya dengan membuat kolam di tengah di bawah Umas baru.

Darah yang dikorbankan kini tidak lagi dari manusia melainkan dari binatang seperti babi dan ayam yang dibiarkan darahnya memenuhi kolam yang sudah dibuat agar terhindar dari gempa bumi.

Hingga kini, Pagete Sabbau tidak bisa disebutkan dalam sebuah pembicaraan kecuali jika dalam pembicaraan yang serius. Teteu juga akan merarayakan dengan tarian indah untuk menghormati jiwanya.

Titi : Jiwa tato dari dukun Mentawai

                    (foto: Lars Krutak)

Jiwa sangat dihargai disana dengan kehadiran tato nan cantik. Orang Mentawai percaya jika tato mengizinkan mereka untuk membawa kekayaan materi di kehidupan surga. Mereka juga percaya tato (titi) membuat mereka mudah diingat saat mati. Banyak bentuk kepercayaan dari adanya tato yang paling penting adalah bisa melindungi mereka dari jiwa iblis yang berkeliaran di hutan.

Tato didesain dan dibuat oleh seorang artis yang biasa disebut asipaniti atau pria yang membuat jarum. Secara tradisional ketika anak perempuan atau anak laki-laki sudah memasuki usia ketujuh, mereka akan dibuatkan tato di punggung. Kini dipraktikan kala mereka sudah masuk ke usia remaja. Lalu, setelah setahun atau dua tahun, lengan dan tangan mereka juga ditato.

Selanjutnya, tato akan dibuat di kaki dan di paha dan ini dilakukan sebelum menikah, yang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan tato di leher dan pipi. Tahap akhir tato biasanya dilakukan di usia 40 ketika siku, dagu dan telapak tangan ditato.

Sebagaimana dikutip dari Lars Krutak, Selasa (15/11/2016), artist tato terkadang menggunakan batang yang sudah ditipiskam diambil dari pohon Karai. Tato Artist lainnya biasanya menggunakan kayu bambu yang sudah disesuaikan untuk dimasukan ke dalam kulit.

  

(foto: Lars Krutak)

(Fiddy Anggriawan )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement