‘Belajar’ mendidik anak dengan tepat
Dalam mendidik dan membesarkan anak, idealnya orangtua juga sudah bisa mengendalikan diri secara emosi sehingga tak mudah marah atau memiliki emosi yang meledak-ledak.
“Orangtua harusnya memiliki pendidikan khusus bagaimana cara merawat dan melindungi anak. Agar tidak ada lagi kasus kekerasan terhadap anak. Dengan bekal pendidikan bagi orangtua, mereka tentu akan sadar bagaimana memerlakukan anak dengan baik dan benar,” lanjutnya.
Hal serupa juga diutarakan oleh Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto. Ia mengatakan agar orangtua bisa memastikan proses pendidikan berlangsung dengan nyaman, menyenangkan dan membelajarkan untuk semua anak.
Adanya anak yang lemah atau pun cerdas secara akademik, bukan berarti dimaknai sebagai takdir, namun karena proses pendidikan yang belum membelajarkan semua anak sesuai dengan karakteristik dan gaya belajarnya masing-masing. “Kembangkan model–model pendisiplinan positif dalam mendidik anak. Tumbuhkan kesadaran untuk disiplin, bukan disiplin karena takut mendapat hukuman,” paparnya.
Diajarkan sejak dini
Di sisi lain, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise mengatakan, orangtua sudah harus mengajarkan hal yang baik dari usia bayi hingga 2 tahun. Tanamkan pada anak dengan mengatakan “tidak” saat melakukan hal yang tidak benar dan menjauhkannya dari situasi tersebut.
“Ada kalanya saat orangtua melakukan hal tersebut, anak akan marah, berteriak, atau menangis. Bila hal tersebut terjadi, sebaiknya berikan timeout untuk si kecil. Timeout merupakan tindakan mendisiplinkan anak dengan cara memisahkannya dari lingkungan yang disukainya,” jelasnya.
Diakuinya, orangtua harus memahami pada usia ini anak suka mencontoh perilaku orangtuanya. Oleh karena itu, pastikan orangtua tidak memberikan hukuman fisik karena ia akan dapat mencontohnya di kemudian hari.
Kemudian beranjak pada usia 3-5 tahun maka di masa ini anak sudah bisa berkomunikasi dengan orangtua dan mulai mengerti konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya.
Oleh karena itu, cara yang tepat untuk mendisiplinkannya adalah dengan memberi aturan yang jelas dan memberi konsekuensi bila aturan tersebut dilanggar.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan sanksi disiplin untuk anak adalah berikan sanksi yang berhubungan dengan kesalahan yang dilakukannya. Selain itu, bila anak mentaati aturan yang dibuat orangtua, jangan lupa berikan pujian padanya. Selanjutnya dari usia 5 hingga 12 tahun, terapkan aturan yang jelas beserta konsekuensi bila aturan tersebut tidak dipatuhi.
Bedanya dengan balita, di tahap usia ini anak lebih sering menentang. “Seringkali melanggar aturan dan tidak mau mengikuti konsekuensi yang ditetapkan. Bila hal tersebut terjadi, orangtua harus tetap konsisten dengan aturan yang dibuat dan jangan memberikan hukuman fisik, melainkan alihkan energi anak kepada hal lain yang positif,” paparnya.
Yohana Yambise menambahkan saat anak sudah dewasa dan sudah mulai mengerti aturan dan disiplin yang baik bagi dirinya, orangtua mulai tidak perlu membuat sanksi bila anak tidak disiplin, melainkan bisa membiarkan anak mengalami ‘konsekuensi alami’.