Hambatan atau tantangan memasarkan ''Damn! I Love Indonesia''?
"Pertama kali memulai, saya enggak sewa toko. Tapi sewa tembok yang ada di sudut jajaran toko salah satu mal di Jakarta. Produk-produk kami dipajang di tembok. Tak disangka, ternyata animo masyarakat, khususnya anak muda besar sekali. Tidak sampai dua bulan barang habis. Kami belum memproduksi lagi. Sejak itu saya mulai merapikan konsep dan produksi. Mempersiapkan gudang dan pekerja. Sampai empat tahun berjalan, uangnya enggak pernah saya ambil. Tapi 'disuntik-in' balik untuk membuka cabang baru. Yang hingga saat ini sudah ada 8 di kota besar di Indonesia.
Sementara itu, saat ''Damn! I Love Indonesia'' menjadi trend yang sangat diganderungi anak muda, munculah produk-produk tiruan. Itu menjadi masalah tersendiri bagi saya. Kalau banyak orang bilang seharusnya bangga barangnya dibajak, saya yakin orang yang ngomong seperti itu belum pernah merasakan rasanya produk dikopi. Barang bajakan menjual Rp100 ribu sebanyak tiga buah, sedangkan produknya per-itemnya lebih dari harga segitu. Untuk menghadapinya saya percaya diri saja, bahwa konsumen saya orang cerdas. Mereka tahu kualitas dan hanya ingin beli barang yang orisinil. Saya merasa dirugikan justru ketika produk bajakan dipakai oleh orang-orang kelas C/D yang tidak punya etika. Memakai kaos ''Damn! I Love Indonesia'' (bajakan) tapi sambil mabuk atau nongkrong enggak jelas. Imbasnya tentu ke brand asli kami.
Usaha saya ini engga selalu mulus. Ada saja persoalan seperti berantem sama partner, itu menjadi masalah sehari-hari. Engga ada orang yang mau berantem sampe enggak bisa tidur soal bisnis, tapi ini terjadi. Misalnya, partner saya ngomong, harga harus naik karena inflasi naik. Namun saya enggak mau. Saya ingin solusinya adalah investasi di branding sehingga orang banyak beli baju maka kita bisa produksi lebih banyak. Jadi bisa nurunin biaya produksi. Karena konsumen sudah yang paling benar jadi jangan sampai merusak kepercayaan costumer. Dalam situasi seperti itu kami harus bisa menahan ego dan diskusi bersama. Melihat apa yang terbaik yang diinginkan konsumen, bukan yang paling baik untuk brand ini."
Dengan mengusung misi patriotisme modern, kontribusi apa saja yang sudah diberikan untuk Indonesia?
"Saya bersyukur sekali patriotisme menjadi keyword anak muda yang mencintai produk ini. Mereka itu kekuatan kami, think global act local. Memakai barang kami kemudian pergi ke luar negeri terus foto, di upload di media sosial. Dari sebuah brand menjadi gerakan mencintai Indonesia. Mereka juga keliling daerah wisata Indonesia dengan bangga memakainya karena yang lain terlalu mainstream, mereka bilang 'gue cinta Indonesia'.
Ada juga penyanyi luar pake baju ini, rasanya mau nangis. Ketika Adam Lavign pakai ''Damn! I Love Indonesia'' saat konser Maroon 5, saya sampai berbusa-busa, enggak mengira sampe sedasyat itu. Selain itu, bintang Korea yang pakai bajunya di Korea. Jujur enggak pernah sampai berekspektasi sejauh itu. Saya bersyukur. Satu pelajaran berharga saya petik dari bisnis adalah jangan mengejar bisnisnya, tapi miliki misi lain yang mulia di balik itu. Kejar misi bukan duit."