ORANG-ORANG tua terdahulu mungkin sering mencicipi sayur babanci. Sayur khas Betawi ini sudah langka dan bahkan sulit ditemui, padahal dulu pernah menjadi primadona pada masanya.
Sayur babanci adalah kuliner khas Betawi yang dulu selalu hadir saat perayaan hari besar seperti pernikahan, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, hingga acara syukuran.
Nama unik babanci disematkan, karena sayur ini cukup unik yakni perpaduan antara gulai, kare dan soto. Ketidak jelasannya membuat sayur ini disebut babanci atau waria yang artinya tidak jelas. Tapi beberapa orang menyebut babanci berasal dari kata babah dan enci yang disinyalir dulunya diolah oleh warga Betawi dan peranakan Tionghoa.
Tapi kini, sayur ini sangat sulit ditemui, salah satunya karena beberapa bumbu sudah sulit didapatkan.
Pakar kuliner Bondan Winarno mengatakan, sayur babanci kini sudah tidak bisa ditemukan lagi karena salah satu bumbunya sudah sulit didapatkan. "Orang sudah jarang masak sayur babanci soalnya satu bumbu sudah enggak ada, namanya kedaung," kata Bondan di Jakarta.
Selain bumbunya yang sudah langka, kebiasaan orang menyajikan sayur babanci hanya saat hari raya juga turut membuatnya semakin ditinggalkan. "Sayur babanci hadirnya hanya saat hari raya, sedangkan orang sekarang kalau Lebaran sudah enggak banyak yang mau makan sayur babanci, pilihnya yang ketupat, rendang dan makanan baru," imbuh Bondan.
Di sebagian kecil daerah di pinggiran Jakarta masih bisa ditemui sayur babanci ini tapi hanya sebagian kecil saja. Alasannya kembali lagi ke ketersediaan bumbu serta rempah yang sudah langka. Kabarnya untuk membuat sayur babanci diperlukan setidaknya 21 jenis bumbu dan rempah.
Dalam sayur babanci juga disertai dengan daging sapi dan disantap dengan potongan ketupat sehingga sering juga disebut ketupat babanci.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.