Hasil tenunan tersebut tentunya menjadi daya tarik wisata sendiri dari Desa Sade. Mereka memulai produksi dari pintalan kapas yang diwarnai sendiri dengan bahan-bahan alami
"Semua bikin sendiri. Warna-warna dari alami. Merah dari kulit kayu. Hijaunya dari daun kecipir. Kuning dari kunyit. Hitamnya dari arang batok kelapa," terang Kia seorang pedagang kerajinan tenun.
Proses pewarnaan benang tenun memakan waktu hingga satu minggu untuk perendaman agar tidak luntur. Sementara penenunan hingga menjadi selendang dan kain meteran tenun tak dapat diprediksi tergantung motif yang diinginkan.
Berbagai motif dihasilkan oleh kain tenun khas Desa Sase tersebut. Diantaranya adalah Kembang Koma, Subhanaleh, Keker, Rangrang, Ragi Genap dan masih banyak lagi. Bahkan motif tersebut memiliki makna unik dibaliknya.
"Kembang Koma itu bunga kecipir. Subahnaleh itu karena saking capeknya dia menenun jadi Subhanallah," tambahnya.