Beralih ke tepian sungai sebelah kiri dari lajunya kapal motor (dari arah Jembatan Ampera) alias bagian ulu, Latief menunjuk pada rumah-rumah terapung milik warga.
Di depan rumah mereka terdapat kapal-kapal kecil yang ditambatkan. Kondisinya agak kumuh, satu dua anak kecil terlihat sedang berenang.
"Ini yang dinamakan kampung china, china town. Warga Tionghoa banyak yang tinggal di sini dengan rumah rakit. Sekarang pun masih ada beberapa," ujar Latief.
Peradaban Tionghoa memang mendarat di Sumatera Selatan, salah satunya di Kota Palembang. Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya menjadi pintu masuk keturunan Tionghoa beserta budayanya. Sekira abad ke-14, Perwira Tiongkok dari Dinasti Ming yaitu Perwira Tjoa.
Saat Belanda datang menjajah, ia menunjuk perwira sebagai Kapitan atau Kapten yang ditugasi memimpin kawasan itu. Jadilah nama kampung itu juga disebut Kampung Kapitan.
Rumah-rumah rakit saat itu adalah perkawinan budaya China dengan Palembang. Bagian atap adalah budaya rumah khas Palembang, rumah limas, sementara bagian dalamnya kental dengan gaya China.
Soal makanan khas pempek, diceritakan Latief adalah kaum Tionghoa yang pertama kali mempopulerkannya.
"Jadi pempek itu dulunya adalah industri homemade warga Tionghoa di daerah Ulu ini. Nama aslinya adalah ampek ampek, aslinya menggunakan ikan gabus yang merupakan ikan dari Sungai Musi. Jadi pempek yang asli itu ya dari daerah Ulu," katanya.
Lagi-lagi pria asli Palembang itu membuat guyonan. "Jadi maaf, soal pempek ini, kalau Presiden Habibie dulu punya hak paten membuat pesawat terbang setelah masa kemerdekaan, saat zaman penjajahan seorang gadis dari Ulu bernama Habibah bahkan sudah punya paten bikin kapal selam," kelakarnya lagi mengocok perut.
Kapal pun berbelok menuju arah tujuan utama kunjungan lapangan Destinasi MICE, tapi sejarah Palembang belum berakhir di sini.
Masih dari tepian Sungai Musi, dapat dilihat beberapa bangunan yang sangat penting bagi aktivitas warga Palembang dulu hingga sekarang.
Seperti pasar tradisional lama yaitu Pasar Sekanak. Meski kini sudah ada pasar yang baru yaitu Pasar 16 Ilir, Pasar Sekanak masih tetap beroperasional meski tidak padat lagi.
Tidak hanya pasar tradisional, membonceng ketenaran Sungai Musi dan Jembatan Ampera, sejumlah restoran pun dibangun di tepian sungai Musi. Seperti restoran Kampung Kapitan, Riverside dan foodcourt tak jauh dari BKB. Mereka pun menyuguhkan perahu mengapung sebagai pilihan untuk bersantap.