RASA ingin tahu yang besar dan sifat kemandirian tumbuh melekat dalam diri Raden Ajeng Kartini dan saudari-saudarinya sedari muda. Dapur dan asap tungku yang mengepul menjadi saksi bisu keceriaan dan pembelajaran Kartini muda dan kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah dalam memasak.
Sama seperti anak-anak lain seusianya di masa itu, Kartini kecil dan saudari-saudarinya sering ikut ke dapur untuk membantu atau sekadar memerhatikan, sang ibu, M.A. Ngasirah, yang saat itu sekaligus diangkat menjadi kepala rumah tangga. Sebagai kepala rumah tangga, Ngasirah yang merupakan istri pertama namun bukan istri utama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, ayah Kartini, memiliki tugas untuk menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan akan pangan dan juga masakan yang akan disantap anggota keluarga kalangan priyayi tersebut.
"Saat itu anak-anak seusia Kartini sudah biasa ngikutin ibunya ke dapur. Bantu-bantu ibu masak atau hanya sekadar memerhartikan bagaimana cara memasak. Dari situ Kartini dan adik-adiknya yang perempuan belajar memasak. " ujar Hadi Priyanto, penulis buku “Kartini, Pembaharu Peradaban” ketika dihubungi Okezone melalui sambungan telepon, Rabu (20/4/2016).
[Baca juga: Resep Pindang Serani Khas Jepara]
Ketrampilan Raden Ajeng Kartini dalam memasak pun, lanjut Hadi, ditularkan dari sang ibu yang memang sehari-hari bertanggungjawab terhadap sajian yang dinikmati sehari-hari oleh anggota keluarga Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.