Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Deodoran Sebabkan Ketiak Teriritasi, Kenapa?

Erika Kurnia , Jurnalis-Kamis, 31 Maret 2016 |17:46 WIB
Deodoran Sebabkan Ketiak Teriritasi, Kenapa?
Deodoran bisa sebabkan ketiak teriritasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

APAKAH Anda pernah merasa tidak cocok dengan deodoran tertentu? Bukan hanya efek gatal, tapi bercak merah yang terasa panas dan meninggalkan bekas pasti sangat mengganggu. Lalu, apa kemungkinan yang sebenarnya terjadi pada kulit Anda?

Dilansir dari Menshealth, Kamis (31/3/2016), dermatologis atau ahli kulit Justin Ko, MD, kepala dermatologi medik di Stanford Health Care, mengatakan bahwa reaksi semacam itu bisa jadi dermatitis karena alergi atau bahan iritan. Deodoran atau antiperspirants apa pun bisa memicu reaksi tersebut.

Pewangi yang digunakan dalam deodoran dan senyawa berbahan dasar aluminum dalam antiperspirants bisa mengiritasi kulit ketiak. Plus, kulit ketiak yang tipis dan sensitif sangat rentan dengan reaksi kimiawi seperti itu, kata ahli.

Jadi jika Anda melihat ada ruam di ketiak Anda, hentikan penggunaan deodoran, meskipun itu sudah lama digunakan. Perlu diketahui, sensitivitas kulit ketiak dapat berkembang setelah bertahun-tahun menggunakan produk yang sama tanpa masalah.

Jika ruam yang panas dan gatal tersebut berlangsung lama, buat janji dengan dokter kulit untuk mengetahui apakah itu terjadi karena alergi. Selanjutnya, belilah deodoran yang tidak menggunakan pewangi atau yang dibuat khusus untuk kulit sensitif.

Tes deodoran baru yang Anda pilih dengan menggunakannya di bagian dalam lengan bawah, lalu tutupi dengan perban selama tiga hari. Jika tidak mengalami ruam, lanjutkan penggunaan untuk ketiak Anda.

(Tuty Ocktaviany)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement