Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kaya Legenda, Alasan Tiongkok Ngotot Klaim Pulau Natuna

Utami Evi Riyani , Jurnalis-Rabu, 18 November 2015 |17:21 WIB
Kaya Legenda, Alasan Tiongkok Ngotot Klaim Pulau Natuna
Kaya legenda, alasan Tiongkok ngotot klaim Pulau Natuna (Foto: Baranews)
A
A
A

PULAU Natuna Indonesia kaya akan legenda, bisa jadi ini merupakan alasan Tiongkok ngotot mengklaim Pulau Natuna milik negeri Tirai Bambu.

Ada legenda melatarbelakangi keberadaan Batu Sindu di Tanjung Senubing, Natuna Indonesia. Legenda ini tidak jauh dari sebuah bencana.

Penduduk setempat percaya dengan legenda akan keberadaan Batu Sindu yang terhampar di Tanjung Senubing. Legenda ini bermula dari sepasang kekasih yang si perempuan berasal dari Dusun Tanjung Datuk dan si laki-laki berasal dari Bukit Senubing.

Kisah cinta sepasang kekasih ini berjalan mulus hingga mendapatkan restu dari kedua keluarga untuk membawa hubungan itu ke jenjang pernikahan. Waktu yang tepat untuk melangsungkan prosesi peminangan dan hantaran dari pihak laki-laki pun  telah disepakati oleh kedua pihak.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kedatangan pihak laki-laki dari Bukit Senubing pun disambut dengan hangat oleh keluarga perempuan. Untuk membuktikan sambutan hangat, keluarga perempuan pun memberi jamuan khusus untuk rombongan dari pihak laki-laki.

Namun dari sini kisah itu bermula, saat jamuan telah dicicipi, tanpa sadar salah satu orang dari keluarga laki-laki mencela jamuan yang disuguhkan. Ia mengatakan bahwa jamuan yang mereka makan kurang sedap untuk dinikmati.

Pihak perempuan yang tak sengaja mendengar ucapan tersebut pun merasa tersinggung dan segera menyebarkan ke seluruh anggota keluarga dan kaum kerabat pihak perempuan.

Keadaan pun memanas, prosesi peminangan yang seharusnya membawa kebahagiaan pun berubah dipenuhi dengan sumpah serapah.

Sumpah serapah itu ditujukan kepada tujuh turunan, di mana orang-orang dari Bukit Senubing tak akan menyebut-nyebut Tanjung Datuk, begitu pula sebaliknya. Keadaan tersebut pun berakhir dengan pengusiran kepada pihak keluarga laki-laki.

Meski kedua keluarga berada dalam situasi yang memanas, namun si laki-laki dan perempuan masih saling mencintai. Tetapi takdir berkata lain, keduanya tidak pernah disatukan kembali. Kisah mereka pun dijadikan sebagai latar belakang hamparan Batu Sindu dan sebuah goa yang ada di areal tersebut.

Hingga kini, legenda itu masih tertanam kuat dalam kehidupan masyarakat. Mereka percaya jika ada yang melanggar sumpah tersebut, maka bencana akan terjadi.

Sementara untuk pasangan kekasih yang berasal dari kedua desa tersebut, diyakini hubungannya tidak akan bertahan lama atau putus di tengah jalan. Demikian dikutip dari Haluankepri.

(Johan Sompotan)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement