Meskipun harus menempuh jarak jauh dan disibukkan dengan tugas kuliah, Maya masih tetap membagi waktunya dengan aktif di berbagai organisasi. Ia sadar bahwa kuliah saja tidak cukup untuk membuat soft skill-nya terasah. Tak tanggung-tanggung ia tergabung dalam Senat, Kopma (Koperasi Mahasiswa), HIMA (Himpunan Mahasiswa), hingga HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).
“Aktif di Kopma itu ibarat bekerja. Sewaktu saya menjabat sebagai direktur utama (sebutan untuk ketua Kopma-Red), saya membawahi sekitar 70 orang. Bahkan, di usia belum 20 tahun saya sudah bisa bikin kompensasi, naikin gaji, dan skill entrepreneurship lainnya. Sedangkan skill teknik persidangan, orasi, leadership, terasah di HMI. Orang-orang lain kalau kuliah kongkow-kongkow, karena beasiswa saya pas-pasan, saya justru digaji dengan mengurus Kopma,” bebernya panjang.
Maya memang berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya berprofesi sebagai guru eksakta. Jadi jika ingin melanjutkan kuliah, ia harus mencari beasiswa. Pengorbanannya memang patut diacungi jempol. Selain menyandang gelar cumlaude dan lulus tepat waktu di dua jurusan tersebut, ia langsung mendapatkan kesempatan beasiswa S2 di Universitas Indonesia dari Sampoerna Foundation.
“Kuliah S2 pun benar-benar mengandalkan komputer di perpustakaan di saat yang lain sudah pakai laptop. Sangat sederhana. Baru mau punya handphone saat masuk S2. Makanya kalau saya melihat ke belakang, naik bus 2,5 jam setiap hari, pulang kuliah jalan kaki, tapi saya tidak mengeluh. Meskipun susah tapi saya bisa berhasil. Sekarang zaman makin canggih harusnya lebih mudah untuk generasi saat ini,” Maya meyakinkan.
Buah perjuangannya begitu manis. Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik Universitas Indonesia dengan IPK 3,9. Menyandang gelar master dalam waktu kurang dari dua tahun, Maya tak mau lama-lama menganggur. Ia lantas melamar ke berbagai perusahaan di antaranya IBM, PNG, dan Unilever.