SELAMA masa Lebaran, kuliner khas Bantul kebanjiran pengunjung. Rata-rata pengunjung berasal dari luar kota yang ingin bersilaturahmi sekaligus berwisata kuliner khas Bantul. Tak terkecuali, Warung Makan Ingkung Ndeso kawasan Karangber Guwosari Pajangan Bantul.
Pemilik warung Ingkung Ayam Jawa, Yudi Susanto mengaku mengalami kenaikan omzet. Meski demikian, tetap saja profit margin turun akibat dirinya membayar lembur karyawan.
"Karyawan yang bersedia bekerja di masa lebaran juga prestasi yang harus dihargai dengan upah tambahan," jelas Yudi.
Rata-rata selama lebaran, Warung Ndeso menghabiskan sekitar 100-150 ingkung dan 60 kg beras dan 10 kg manggar untuk gudeg manggar. Padahal, hari biasa maksimal hanya menghabiskan 50 ingkung ayam dan 30 kg beras.
"Sebenarnya kalau mau lembur-lembur dan buka full sampai malam, habisnya ingkung bisa lebih dari sekian. Namun karena keterbatasan tenaga, maka kami batasi," tegas Yudi.
Kebanyakan pengunjung Warung Ingkung Ndeso berasal dari luar kota, seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Tangerang, dan sebagainya. Mereka penasaran menikmati ayam olahan khas Bantul.
Untuk bahan baku, Yudi justru mengaku tidak terlalu sulit. Warungnya selalu mendapatkan suplaian ayam dari tiga pedagang. Meski demikian, harga bahan baku mengalami kenaikan pasca-Lebaran.
"Pedagang yang menyetor ke warung saya dari Triwidadi dan Guwosari Pajangan. Kita pertahankan ingkung dari ayam kampung asli yang liar bukan hasil budidaya. Konon kualitas rasa juga berbeda," tegas Yudi.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.