KEINGINAN memajukan ciri khas budaya setempat, tentu harus dibarengi dengan pemenuhan kualitas hidup para pengrajin lokal. Salah satunya, meningkatkan upah minimun regional (UMR) dengan nominal yang lebih layak.
Harry Ibrahim, Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) BPD Jawa Barat menjelaskan, minimnya upah yang diterima para pengrajin lokal menjadi penyebab utama berkurangnya minat pekerja untuk bertahan di bidang tersebut.
“Banyak pengrajin di daerah yang berkualitas dan kreatif, namun mereka harus keluar dari daerah tersebut karena tuntutan hidup yang semakin mendesak. Mereka harus cari penghasilan yang lebih besar untuk menghidupi keluarga mereka. Jadi, tidak salah jika akhirnya banyak pengrajin lokal yang kemudian beralih, bahkan meninggalkan daerah menuju kota,” tuturnya saat ditemui di Bandung, Jawa Barat, Senin, 8 Desember 2014.
Menurutnya, kebutuhan hidup pada akhirnya akan mendorong seseorang melakukan apa pun untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar.
“Saya memiliki pengrajin yang berasal dari Tasikmalaya. Dia berpotensi sekali untuk mengembangkan kerajinan di kotanya. Namun, ia lebih memilih untuk bekerja di kota karena saya membayarnya dengan gaji standar UMR kota,” jelasnya.
Melihat hal ini, Harry berharap Pemerintah Daerah dapat lebih memerhatikan kebutuhan para pengrajin lokal dengan meningkatkan taraf hidup yang sesuai.
“Memang sudah hukum alam jika seseorang berpindah karena tidak mendapatkan sesuatu yang dicarinya di tempat yang lama. Namun perlu diingat, jika pemerintah setempat ingin mempertahankan budaya yang ada, ingin bordir tetap ada dan pengrajin tidak hilang, mungkin salah satu caranya meningkatkan upah para pekerja pada nominal yang sesuai,” saran Harry.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.