CERITA mertua versus menantu seperti episode sinetron striping yang tak ada habisnya. Hubungan ibu mertua dan menantu perempuan memang penuh warna. Seperti apa tipe mertua Anda?
Berikut ini ulasan M.G. Yulistin Puspaningrum, M.Psi, sebagaimana dilansir Mom & Kiddie.
Tipe Penganut tradisi & mitos
“Dulu bayi umur empat bulan juga sudah mulai dikasih makan, kelamaan nunggu enam bulan!” “Jangan gendong begitu! Nanti jalannya ngangkang!”
Aneka nasihat kerap dilontarkan orangtua, apalagi jika berurusan dengan pengasuhan buah hati. Ini boleh, itu enggak boleh! Duh, pusing!
Tak sedikit Moms yang menyimpan kekesalan dalam hati, merasa ibu mertua sok tahu dan paling berpengalaman. Eits, tenang dulu Moms! Cobalah kita berpikir dari sisinya, sebagai nenek yang sangat menyayangi cucu, ia ingin memberikan ilmu atau jurus jitu mengurus anak. Sayangnya, ia mungkin mengabaikan faktor perbedaan zaman dalam mendidik anak.
Tips: Moms harus menyiapkan “amunisi”. Misalnya, masalah MPASI enam bulan. Anda harus mengumpulkan data valid/informasi kesehatan yang mendukung. Jelaskan pada mertua kalau dari segi kesehatan, MPASI boleh diberikan setelah bayi berusia enam bulan. Organ tubuhnya belum kuat jika dipaksakan saat berusia empat bulan. Sampaikan dengan cara baik-baik, lewat suasana santai agar mertua bisa memahami alasannya.
Tipe penggosip
Wanita dan curhat, bak panci dan tutup yang tak terpisahkan. Ada saja bahan pembicaraan kaum hawa jika sudah bertemu. Entah itu membicarakan diri sendiri maupun orang lain, ups!
Nah, jika si ibu mertua kerap menyambangi rumah Anda atau menelefon lalu bergosip ria dan Moms merasa terganggu, jangan diam saja!
Sadar atau tidak, mertua bisa menceritakan tentang keluarganya sendiri atau orang yang juga Anda kenal. Wajar bila Moms merasa “gerah” sendiri.
Tips: Sebaiknya Anda tak mudah terpancing gosip atau cerita yang belum terjamin kebenarannya. Dengarkan saja, namun jangan ditanggapi. Ucapkan terima kasih dan minta izin untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Seiring waktu, mertua akan berpikir dan merasa kalau menantunya tidak suka mendengar cerita tentang keburukan orang lain.
Tipe super-protektif
Suami Anda termasuk “anak mama”? Hmm… menghadapi ibu mertua tipe ini perlu kesabaran ekstra. Mengapa? Para ibu ini sering “mengabaikan” kalau anak laki-lakinya sudah menikahi Anda. Lupa sudah ada istri yang mengurus.
Namun karena puluhan tahun si Ibu terbiasa mengurus makanan kesukaan, pakaian dan ragam hal yang berhubungan dengan anaknya, maka kebiasaan (habit) ini akan mengakar kuat. Wong sudah dari sono-nya si ibu ini hobi mengatur urusan buah hatinya (mungkin sekarang “melebarkan sayap” ke urusan cucu), jadi super-maklum saja ya Moms.
Tips: Sampaikan dengan sopan kalau Anda dan suami sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Moms juga harus berdiskusi dengan pasangan (Dads), idealnya memang Dads yang perlu bersikap tegas pada ibunya jika memang si ibu sudah melewati batas.
Tipe penilai (judgment)
Pernahkah Moms merasa selalu salah di depan ibu mertua? Ada saja komentar negatif yang dilontarkan ibu mertua. “Masakan kurang bumbulah!” atau “Anak kurus karena enggak pinter ngurus!” Belum lagi kalau ibu mertua kerap menyindir dengan membandingkan sikap menantu temannya. “Mantunya ibu A itu rajin banget loh!” Hmmm…hela napas panjang ya Moms.
Tips: Terima saja komentarnya, ucapkan terima kasih atas saran dan kritik ibu mertua. Katakan bahwa tiap individu memiliki karakter dan cara berbeda dalam bersikap. Sampaikan kalau Anda akan mengevaluasi diri, selama kritik dan saran dari mertua masih bisa diterima. Namun jika tidak, ungkapkan dengan cara yang tidak menyinggung dan bisa diterima oleh si ibu mertua.
Tipe pendiam
Nah, ibu mertua yang begini justru gampang-gampang susah dihadapi ya! Moms pasti serbasalah menghadapinya, karena “membaca” hati seorang pendiam adalah hal sulit.
Tips: Moms harus berperan aktif mengenali kepribadiannya. Cermati kalimat dan bahasa tubuhnya, kapan waktu yang tepat mengajaknya bicara serius, kapan saatnya bercanda.
Orang yang pendiam biasanya tidak terlalu suka diajak mengobrol terlalu lama. Jadi, pintar-pintar melihat situasi ya Moms! Coba juga cari tahu sifatnya dari orang-orang terdekatnya.
Tipe manja/ingin selalu ditemani
Orang bilang menghadapi usia lanjut itu tak ubahnya berhadapan dengan anak kecil. Waktu seakan berputar kembali ke masa kanak-kanak. Orangtua menjadi lebih sensitif perasaannya, mudah ngambek, ingin selalu ditemani/sering dikunjungi, ingin selalu diperhatikan/nomor satukan, dan sebagainya.
Sekali lagi, marilah kita melihat dari kacamata para orangtua ya Moms. Usia yang tak lagi muda membuat ruang gerak mereka terbatas untuk bepergian atau bersenang-senang. Otomatis waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah. Tak heran bila mertua selalu “mengatasnamakan” kangen dengan cucu agar Anda sekeluarga menyambanginya. Pahami saja kalau mereka kesepian. Tentu berbeda dengan keluarga kecil Anda yang bisa saja menghabiskan weekend tiap pekan dengan acara berbeda.
Tips: Cobalah atur waktu mengunjungi mertua. Jangan sering-sering menolak permintaannya untuk dikunjungi. Bila memang berhalangan datang, jelaskan alasan yang mudah dipahami mereka. Setidaknya tunjukkan kalau Anda peduli. Memberikan alasan “sibuk” sebenarnya termasuk kalimat klasik, jadi lebih baik ceritakan kegiatan yang membuat Anda tak bisa datang. Setidaknya dengan banyak bercerita via telefon, dapat mengurangi sedikit rasa kesepian mereka.
Nah, semoga saran di atas berguna untuk Moms dalam menghadapi si ibu mertua ya. Bagi yang tidak menghadapi tipe-tipe tersebut dan rukun/adem-ayem dengan mertua, artinya Anda patut bersyukur.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.