ATRAKSI Lompat Batu Nias menjadi salah satu kesenian budaya memukau pengunjung Monas. Hampir semua pelompat Batu Nias laki-laki.
Orang Nias menyebut tradisi Lompat Batu dengan sebutan fahombo batu. Tradisi ini hanya boleh diikuti laki-laki dan sama sekali tidak memperbolehkan perempuan untuk ikut serta.
"Memang semua pelompat batu itu laki-laki. Hal ini karena memang pelompat batu itu dianggap sebagai pelindung," ujar pelompat batu, Septianus Bulolo kepada Okezone dalam acara Gelar Budaya Rakyat di kawasan Monas, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Lompat batu merupakan ajang ketangkasan. Nantinya bila berhasil melompat dengan sempurna, pelompat batu didaulat sebagai pembela kampungnya atau disebut samu’i mbanua ketika terjadi perselisihan dengan kampung lain.
"Tetapi, pelompat batu tidak bergantung dari usia berapa, karena sesuai kemampuan saja. Ada yang berusia 30 tahun belum bisa, tetapi ada juga 12 tahun mampu melompati batu," tuturnya.
Untuk diketahui, bahwa tradisi lompat batu mulanya dilakukan pemuda Nias untuk menunjukkan kedewasaan dan matang secara fisik. Tradisi lompat batu sendiri tidak terdapat di semua wilayah Nias, tetapi di kampung tertentu, misalnya wilayah Teluk Dalam.
(Johan Sompotan)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari