Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Eksotisme Kampung Pecinan Tertua di Bangka, Ironi Tanpa Listrik!

Winda Destiana , Jurnalis-Kamis, 06 Februari 2014 |06:09 WIB
Eksotisme Kampung Pecinan Tertua di Bangka, Ironi Tanpa Listrik!
Desa Gedong (Foto: indonesiatravel)
A
A
A

BAGI Anda yang mencintai kesederhanaan, patut kiranya berkunjung ke desa cantik ini. Tak hanya menampilkan keindahan alam yang memukau, kesederhanaan serta kealamiannya masih terasa sangat kental.

Desa Gedong merupakan sebuah desa wisata yang jauh dari gemerlap kota berikut mal dan gedung pencakar langitnya. Berkunjung ke Desa Gedong dapat menjadi hiburan tersendiri untuk Anda.
Desa sederhana dan tua ini tepatnya berada di Kelurahan Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Desa Gedong adalah perkampungan Pecinan tertua di Bangka yang telah ada sejak abad ke-18, seperti dilansir dari IndonesiaTravel, Kamis (6/2/2014).

Kabarnya, penduduk desa ini merupakan keturunan dari orang-orang China daratan (Tionghoa Hakka) yang didatangkan ke Bangka oleh kolonial Belanda untuk dipekerjakan sebagai penambang timah. Provinsi Guangdong disebut-sebut sebagai daerah asal mereka sebab konon warga Guangdong memang terkenal sebagai penambang andal.

Desa sederhana yang dinobatkan sebagai desa wisata pada 2000 ini dihuni sekira 50 kepala keluarga atau 300 jiwa. Menempati lahan seluas 2,5 hektare, suasananya terkesan sepi, tenang, bahkan mungkin mengingatkan Anda pada suasana film-film lama berlatarkan desa Pecinan.

Kesan desa tua terekam jelas pada bangunan-bangunan rumah bergaya arsitektur China saat Anda melangkahkan kaki ke Desa Gedong. Sebelumnya, sebuah tugu sederhana terbuat dari rangka besi akan menyambut wisatawan sebelum menginjakkan kaki ke dalamnya. Rumah-rumah antik yang masih dihuni dan kokoh berdiri tersebut sebagian besar terbuat dari kayu dan beratapkan genting.

Uniknya, beberapa rumah nyaris belum mengalami perubahan berarti akibat renovasi. Bahkan, konstruksi beberapa rumah masih menggunakan pasak, dan bukannya paku. Ada sekira tujuh rumah yang masih mempertahankan keasliannya sejak pertama kali dibangun, diperkirakan usianya sudah lebih dari 100 tahun.

Berjarak sekira dua jam perjalanan darat dari Kota Pangkalpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Desa Gedong adalah sebuah desa yang belum terjamah listrik. Penduduk menggunakan genset untuk memasok kebutuhan listrik mereka. Hal ini dapat dikatakan ironis mengingat Belinyu adalah kawasan pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara pada zaman kolonial. Di awal abad ke-18, Belanda membangun PLTU Mantang di Belinyu untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam praktek penambangan timah. Meski begitu, kondisi minimnya listrik seolah menambah keunikan kampung Pecinan yang antik ini.

Desa Gedong berjarak 14 km dari Kota Belinyu, 53 km dari Kota Sungailiat dan 90 km di sebelah utara Kota Pangkalpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kekhasan arsitektur rumah dan bangunan bergaya etnik China berusia ratusan tahun adalah daya tarik utamanya. Kesan antik dan klasik begitu kental terasa di kampung kecil yang tenang ini; suatu objek menarik untuk disambangi dan diabadikan dalam kamera.

Di Desa Gedong ini, selain dapat mengagumi deretan rumah kayu antik, masih banyak hal bisa dikagumi dan diabadikan oleh kamera. Ornamen Tionghoa, kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan rumah, serta tiga klenteng pelindung desa juga menjadi ciri khas desa tua nan cantik ini. Beberapa rumah dihiasi ornamen khusus khas Tionghoa. Begitu pula dengan bangunan klenteng yang penuh dengan hiasan Tionghoa dan berwarna mencolok, merah. Sungguh sebuah pemandangan menarik di tengah alam tropis Pulau Bangka penghasil lada dan timah.

Selain bangunan kuno, terdapat beberapa bangunan lain yang sudah agak modern. Beberapa di antaranya dibangun tahun 1950-an, ada pula yang dibangun tahun 1990-an dan bertembok beton. Selain menikmati bangunan-bangunan tua, mengamati kehidupan masyarakatnya juga tentu menjadi kegiatan yang menarik. Penduduk Desa Gedong masih memegang teguh adat istiadat keturunan Tionghoa.

Sehari-hari, sebagian besar warga masih menggunakan bahasa China untuk bercakap-cakap sehingga tak banyak yang bisa berbahasa Bangka, apalagi bahasa Indonesia dengan fasih. Sejak runtuhnya masa kejayaan timah di Bangka, para penduduk Desa Gedong banyak yang beralih profesi menjadi petani, nelayan, pedagang, atau pengusaha kerupuk kemplang. Terdapat usaha rumah tangga kerupuk kemplang, oleh-oleh khas Bangka, di desa ini. Kemplang yang diproduksi di desa ini terkenal sebagai salah satu yang paling enak. Anda bisa melihat deretan adonan kemplang yang di jemur di halaman rumah penduduk yang berprofesi sebagai penjual kemplang.

(Fitri Yulianti)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement