TAK lulus ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sering menjadi beban tersendiri bagi anak. Untuk itu, orangtua tidak saja dituntut menjadi motivator yang baik tapi juga pendamping untuk membesarkan hati mereka.
Pengumuman seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) yang baru diumumkan 6 Juli 2012 lalu mendatangkan dua sisi sekaligus. Mereka yang berhasil lolos dan juga tak lolos ujian.
Bagi mereka yang gagal, tentu kekecewaan tak dapat terbendung. Imbasnya, secara psikologis pun jadi terganggu. Bahkan, serangan stres tak jarang menyerang anak-anak. Hal itu pun diamini psikolog Veronika Soepomo saat berbincang dengan Okezone.
“Dampaknya bisa menimbulkan stres lalu bisa mengurung diri kalau lingkungan tidak mendukung apalagi jika si anak punya self esteem rendah maka ia bisa saja merasa tidak berguna, tidak sanggup menuju ke depan, sering kali merasa terganggu, bahkan mungkin bisa terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, kalau konsep dirinya masih ada mungkin malunya hanya sama teman saja,” ujar psikolog Veronika Soepomo dalam sambungan telefon, Sabtu, 7 Juli 2012.
Tak hanya itu, faktor lingkungan pun juga turut berpengaruh terhadap kondisi sang anak. Menurutnya, apabila lingkungan tempat sang anak berada mendukung maka ia bisa cepat move on.
Ya, hal ini memang sangat wajar terjadi. Pasalnya, sambung Veronika, usia anak lulus SMA merupakan masa dimana mereka masih mencari jati diri, sehingga perlu pendampingan intensif khususnya dari keluarga. Dalam hal ini, keluarga memegang peranan cukup penting untuk mengatasi dampak lain yang lebih besar dari kegagalan yang sedang dihadapinya tersebut.
"Dalam kasus lain, memang ada beberapa keluarga yang menerapkan kalau anak harus selalu berhasil. Nah, kalau dia tidak bisa, maka bisa saja anak akan mengurung diri atau melarikan diri dari rumah, bahkan juga ada yang sampai bunuh diri karena seolah-olah orangtua ini menyalahkan anaknya karena kegagalan yang dialami,"jelas Veronika.
Di sisi lain, mereka yang berhasil lolos seleksi pun menimbulkan dampak psikologis tersendiri dimana orangtua juga perlu mewaspadai hal ini. "Sudah pasti itu euforia, karena mereka ini kan anak baru gede (ABG), mereka harus ingat reward itu jangan sampai keterusan karena langkah mereka masih panjang, dan juga orangtua harus tahu itu, mereka harus mengingatkan pada anak jangan sampai kebablasan dan larut dari euforia itu,"tutupnya. (ind)
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.