SIAPA bilang hanya orang dewasa yang memiliki emosi. Layaknya orang dewasa, anak pun memiliki emosi yang juga butuh diatur. Sebagai orangtua, jangan pernah abaikan emosi si buah hati.
Emosi biasanya dikaitkan dengan perasaan marah. Padahal bukan hanya itu, emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau terhadap sesuatu. Emosi pun dapat ditunjukkan ketika merasa senang pada sesuatu, marah kepada seseorang, terkejut karena sesuatu, ataupun takut terhadap sesuatu. Tidak hanya orang dewasa yang memiliki emosi, ternyata semua orang memiliki emosi, termasuk bayi atau anak.
Emosi anak pun mirip dengan orang dewasa,namun yang membedakan adalah cara berpikir mereka. Selain itu, anak juga belum mengerti perbedaan antara mengalami perasaan dan mengekspresikannya supaya bisa bertingkah laku untuk mengendalikan emosinya.
Dikatakan oleh pengamat anak, Dr Seto Mulyadi Spi Msi yang akrab disapa Kak Seto bahwa emosi anak ditunjukkan dengan cara yang berbeda. Itu sebabnya, orangtua harus tanggap pada emosi anak.
”Orangtua bisa mempertimbangkan apa yang seharusnya disampaikan kepada buah hati dengan membaca beberapa respons terhadap emosi anak,” tutur psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.
Kak Seto menuturkan, saat ini tidak sedikit orang tua yang masih mengabaikan emosi pada anak, baik emosi saat anak marah, bahagia, maupun sedih. Hal itu menyebabkan anak tidak bisa mengelola emosinya dengan baik, yang akan berdampak buruk pada perkembangan emosinya termasuk berdampak pada pembentukan mental emosionalnya.
”Orangtua masih banyak yang tidak menyadari emosi pada anak, bahkan cenderung tidak peduli. Padahal, kala itu anak butuh perhatian,” paparnya.
Banyak orangtua yang meremehkan perasaan-perasaan anak sehingga mereka menganggapnya sebagai hal yang tidak penting. Akibatnya, si anak mengira bahwa perasaan yang mereka reaksikan keliru atau tidak tepat dan bisa dimungkinkan anak akan menghadapi kesulitan dalam mengatur emosi-emosi mereka.
Jadi, yang harus dilakukan orangtua adalah dengan merespons atau menghargai emosi-emosi negatif anak sebagai sebuah kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak. Dengan begitu, anak akan belajar mempercayai perasaannya, termasuk menjadi pandai mengatur emosi mereka dan menyelesaikan masalahnya.
Emotional Intelligence Parenting Consultant dari Radani- Emotional intelligence Center, Hanny Muchtar Darta, Certified EI PSYCH-K SET mengatakan bahwa sebenarnya anak-anak sudah bisa menunjukkan emosi negatif dan emosi positif sejak dalam kandungan. Mereka bisa memperlihatkan emosi negatif semisal marah, sedih, kecewa, kesal, juga emosi positif misal senang, puas, bahagia, ceria.
”Namun, kebanyakan orang tua hanya ingat ketika anak sedang menunjukkan emosi marah saja. Biasanya ketika anak menunjukkan emosi negatif, orangtua juga menjadi kesal dan marah sehingga emosi banyak dikaitkan dengan perasaan marah saja,” tuturnya.
Setiap anak belum tentu memiliki reaksi yang sama dalam memperlihatkan emosi karena hal tersebut bergantung pada pembawaan anak yang juga dipengaruhi oleh lingkungannya.
Seperti jika anak berada di lingkungan yang mudah marah, dia akan mudah menjadi pemarah. ”Lingkungan memiliki pengaruh 51%, sisanya genetika,” tandas wanita yang mengambil pendidikan di Emotional Intelligence Six Seconds USA ini.
Hanny menjelaskan, emosi bekerja seperti virus, jadi menyebar dengan cepat. Diketahui bahwa pada anak dengan dominan otak kanan lebih mengalirkan emosinya (flowing emotionally), sedangkan pada anak dengan dominan otak kiri akan lebih mengelola emosi.
Jadi, sebaiknya orang tua bisa memahami emosi anak, menunjukkan contoh bagaimana kita melakukan navigasi atas emosi kita. Hal yang bisa dilakukan, misalnya menarik napas, ingat akan hal-hal baik, berjalan beberapa langkah untuk mendapatkan ketenangan, minum air mineral.
”Dibutuhkan paling lama hanya 6 detik untuk mengajak otak kiri bekerja sama dengan otak kanan sehingga kita bisa melakukan tindakan yang baik untuk diri kita dan baik buat lingkungan,”sarannya.
Meskipun emosi sangat berbeda dari proses berpikir, perkembangan emosi ternyata memengaruhi dan memiliki arti penting bagi proses berpikir. Dalam proses belajar misalnya, seorang anak butuh memiliki komitmen secara emosional.
Anak dengan kesiapan secara emosional inilah yang kelak cenderung lebih termotivasi. Proses belajar pun akan menjadi lebih efektif saat melibatkan emosi dan hubungan sosial.
(Chaerunnisa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.