TREN gaya hidup organik kini makin merambah ke segala bidang, termasuk mode. Semakin banyak pelaku mode yang mengaplikasikan teknik eco textile yang ramah lingkungan.
Isu mengenai pemanasan global yang belakangan ini ramai diusung ke permukaan mendorong kesadaran berbagai pihak untuk mulai bersahabat dengan lingkungan, termasuk juga para pelaku mode kelas dunia. Pasalnya, tanpa disadari, industri mode terutama pengolahan bahan tekstil memberikan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan.
Sebut saja bahan yang sering digunakan sebagai pakaian, seperti halnya nilon maupun polyester. Terkesan ringan memang, tapi keduanya terbuat dari bahan petrokimia, yang menjadi salah satu kontributor utama terjadinya global warming. Karena dalam produksinya, nilon dan polyester melepaskan gas nitro oksida (NO2) ke udara, yang memiliki kemampuan 300 kali lebih besar daripada gas karbondioksida (CO2) untuk menimbulkan efek rumah kaca. Bukan hanya itu, kedua jenis bahan itu juga sulit didaur ulang.
Bahkan, kain katun yang terlihat paling natural sekalipun, sebenarnya justru lebih tidak ramah lingkungan dibandingkan kain sintetis lainnya. Kapas yang menjadi bahan dasar katun menjadi tidak ramah akibat disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia lainnya secara rutin.
Menyadari dampak buruk tersebut, sudah sewajarnya bila industri tekstil mulai memikirkan dan mengambil langkah untuk lebih "menghijaukan" industrinya. Salah satunya dengan mengadakan seminar mengenai produksi tekstil ramah lingkungan seperti yang dilakukan Swiss Textile-Testing Testex.
Seminar yang digelar di Ballroom Hotel Hyatt Regency, Bandung, itu bertujuan memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai eco textile sekaligus menjawab tantangan pasar global akan produk tekstil yang eco friendly. Pimpinan Testex Swiss Dr Jean-Pierre Haug, yang menjadi salah satu pembicara pada seminar tersebut mengatakan, pelaku industri mode dari hulu hingga hilir membutuhkan pengetahuan dan informasi yang lengkap mengenai tekstil yang ramah lingkungan.
"Tidak mudah menghasilkan sesuatu yang benar-benar ramah lingkungan. Semua itu memerlukan proses yang begitu rumit dan saling berkaitan. Selain itu dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk mewujudkannya," ujar Dr Haug.
Bukan hanya produsen yang memiliki peranan penting dalam proses tersebut. Namun juga rantai selanjutnya, seperti halnya distributor hingga peritel. "Eco textile tidak akan ada artinya bila salah satu mata rantai hilang," sebutnya. Singkatnya,mulai penanaman benih tumbuhan penghasil serat, pemeliharaan bahan baku, pemintalan, pencelupan, hingga finishing harus terbebas dari bahan kimia. Maka jadilah suatu produk disebut organik.
Namun, alasan itu juga yang menjadikan produk eco textile berharga begitu tinggi. Kendati demikian, Dr Haug mengungkapkan, saat ini ecofashion telah menjadi sesuatu yang sangat besar dan merupakan statement terdepan dari komunitas mode di negara-negara maju.
Pembicara selanjutnya, Paul Cowell yang mewakili DyStar Textile Service Singapura mengatakan, bisnis eco textile bahkan menjadi semakin besar setiap tahunnya. "Isu pemanasan global dan perusakan lingkungan telah memengaruhi konsumen secara global. Saat ini mereka mengharapkan produk yang lebih ramah lingkungan," ujar Cowell.
Hal itu juga diperkuat data statistik Millenium Poll of Social Responsibility yang menyebutkan, sekitar 60 persen dari 25.000 konsumen di 23 negara mengharapkan produk yang memiliki etika bisnis, dalam artian memiliki karyawan yang layak dan mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan.
Kesempatan itu tidak disia- siakan oleh peritel besar Amerika Wal-Mart yang langsung meluncurkan lini produk ramah lingkungan, termasuk home depo. Celah ini juga segera disambar oleh Target yang kini memiliki lebih dari 500 jenis makanan organik untuk dijual. Sementara Timberland merencanakan rangkaian produk bebas karbon pada tahun 2010.
Para desainer pun mulai bergerak. Mereka kini menyajikan busana yang ramah lingkungan, baik dari segi bahan yang digunakan hingga proses pengerjaannya. Namun, konsep eco-fashion dan eco-textile tidak selamanya bermakna organik. Bisa juga dengan teknik re-use alias menggunakan kembali. Seperti yang dilakukan desainer Indonesia Carmanita.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari