Tren Glass Skin Viral, Benarkah Bisa Merusak Skin Barrier?

Agustina Wulandari , Jurnalis
Minggu 18 Oktober 2026 13:05 WIB
Ilustrasi glass skin. (Foto: dok Magnific)
Share :

JAKARTA - Tren glass skin semakin populer di media sosial. Tren kecantikan yang terinspirasi dari perawatan kulit Korea Selatan ini mengutamakan tampilan wajah yang lembap, halus, bercahaya, dan tampak bening seperti kaca.

Untuk mendapatkan tampilan tersebut, banyak orang mencoba berbagai produk perawatan kulit, mulai dari serum, eksfoliator, hingga masker wajah. Rutinitasnya pun kerap melibatkan banyak tahapan agar kulit tampak semakin mulus dan bercahaya.

Namun, ternyata penggunaan produk perawatan kulit secara berlebihan justru bisa berdampak buruk. Alih-alih mendapatkan kulit sehat, kebiasaan ini berisiko merusak lapisan pelindung kulit atau skin barrier.

Melansir Times of India, dokter kulit dr. Chandani Jain Gupta mengingatkan bahwa penggunaan produk perawatan kulit secara berlebihan, terutama eksfoliasi yang terlalu sering, dapat mengganggu fungsi pelindung alami kulit.

Bagaimana Glass Skin Bisa Merusak Skin Barrier?

Skin barrier merupakan lapisan pelindung terluar kulit yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus melindungi kulit dari berbagai faktor eksternal, seperti polusi, bakteri, dan zat yang dapat menyebabkan iritasi.

Ketika lapisan ini mengalami kerusakan, kulit akan lebih sulit mempertahankan kelembapannya. Kulit juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap produk perawatan yang sebelumnya terasa nyaman digunakan.

Ada beberapa kebiasaan dalam rutinitas glass skin yang berisiko mengganggu fungsi skin barrier, antara lain:

1. Terlalu sering melakukan eksfoliasi

Eksfoliasi bertujuan mengangkat sel kulit mati agar kulit terasa lebih halus. Namun, melakukannya terlalu sering atau menggunakan produk yang terlalu kuat dapat menyebabkan kemerahan, kulit kering, dan iritasi.

2. Menggunakan terlalu banyak bahan aktif

Serum dan produk dengan bahan aktif tertentu memang bisa mengatasi masalah kulit. Namun, penggunaan beberapa bahan aktif sekaligus tanpa memperhatikan kecocokannya bisa meningkatkan risiko iritasi dan membuat kulit lebih sensitif.

3. Menumpuk terlalu banyak produk

Menggunakan banyak produk bukan berarti hasilnya akan semakin baik. Setiap orang memiliki kebutuhan kulit yang berbeda, sehingga produk yang cocok untuk seseorang belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.

Kulit Sehat Tak Harus Mulus Tanpa Pori-Pori

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah kulit sehat tidak harus terlihat sempurna. Pori-pori, garis halus, tekstur kulit, dan jerawat yang sesekali muncul merupakan hal yang wajar.

Gambaran glass skin di media sosial juga tidak selalu mencerminkan kondisi kulit sebenarnya. Pencahayaan, riasan, sudut pengambilan gambar, hingga penggunaan filter dapat membuat kulit terlihat jauh lebih mulus daripada kondisi aslinya.

Karena itu, mengejar tampilan kulit tanpa pori-pori bisa menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis. Seseorang mungkin terus mencoba berbagai produk demi mendapatkan hasil yang sama, meskipun kulitnya sebenarnya sudah sehat.

Jadi, tujuan utama perawatan kulit bukan sekadar mendapatkan wajah yang terlihat berkilau seperti kaca, melainkan menjaga kulit tetap sehat, terhidrasi, dan nyaman.

Kamu tak perlu memaksakan diri mengikuti setiap tren kecantikan yang viral. Kenali kebutuhan kulitmu dan pilih perawatan yang sesuai, karena kulit sehat tidak harus selalu terlihat sempurna.

(Agustina Wulandari )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya