JAKARTA - Mengurangi konsumsi gula bukan perkara mudah, terutama bagi orang yang terbiasa mengonsumsi makanan dan minuman manis setiap hari. Mulai dari kopi susu, teh manis, sereal sarapan, hingga saus siap pakai, gula tambahan ternyata bisa ditemukan dalam berbagai produk yang sering dikonsumsi.
Padahal, konsumsi gula tambahan secara berlebihan bisa memicu berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak, dan penyakit kardiovaskular.
Dokter dari National Health Service (NHS) Inggris, dr. Rupy Aujla, membagikan lima langkah sederhana mengurangi konsumsi gula sehari-hari.
Melansir Hindustan Times, dr. Rupy menyoroti bahwa gula tidak hanya berasal dari permen, cokelat, atau kue. Berbagai produk yang terlihat sehat, seperti granola, jus buah kemasan, dan saus, juga bisa mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi.
Nah, bagaimana cara mengurangi konsumsi gula tanpa harus mengubah pola makan secara drastis? Berikut lima langkah yang bisa dicoba.
Menurut dr. Rupy, mengonsumsi makanan tinggi gula pada pagi hari bisa membuat kadar gula darah naik dengan cepat, kemudian menurun kembali. Perubahan ini bisa memengaruhi energi dan memicu keinginan untuk mengonsumsi makanan manis lagi.
Sebagai alternatif, ia menyarankan untuk memilih menu sarapan yang mengandung protein dan serat. Beberapa pilihan yang bisa dicoba antara lain telur, kacang-kacangan, atau makanan sisa dari makan malam sebelumnya yang masih layak dikonsumsi.
Minuman menjadi salah satu sumber gula tambahan yang sering tidak disadari. Bukan hanya minuman bersoda, gula juga bisa ditemukan dalam jus buah kemasan, smoothie siap minum, kopi dingin dengan pemanis, dan minuman nabati yang diberi gula tambahan.
Karena itu, dr. Rupy menyarankan untuk mulai mengganti minuman manis dengan pilihan yang lebih rendah gula. Air putih bisa menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Jika ingin minuman yang memiliki rasa, kamu bisa mencoba teh dingin buatan sendiri dengan tambahan kayu manis atau buah beri, teh hibiskus tanpa gula, maupun kopi hitam tanpa pemanis.
Keinginan mengonsumsi makanan manis tak selalu berarti tubuh sedang membutuhkan gula. Terkadang, kebiasaan tersebut muncul karena lapar, haus, stres, atau keinginan mencari kenyamanan setelah menjalani aktivitas yang melelahkan.
Dr. Rupy menyarankan untuk berhenti sejenak ketika keinginan makan manis muncul, lalu mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, “apakah saya benar-benar lapar, haus atau sedang ingin memperbaiki suasana hati?”
Dengan mengenali penyebabnya, seseorang bisa menentukan respons yang lebih sesuai. Jika lapar, misalnya, pilih makanan yang mengenyangkan dan mengandung protein serta serat. Jika haus, cobalah minum air putih terlebih dahulu.
Cara lain untuk mengurangi konsumsi gula adalah lebih teliti saat berbelanja bahan makanan. Menurut dr. Rupy, banyak keputusan terkait konsumsi gula justru dimulai ketika seseorang memilih produk di supermarket.
Perhatikan bagian informasi nilai gizi pada kemasan, khususnya keterangan jumlah gula per 100 gram. Jangan hanya mengandalkan klaim seperti sehat, alami, atau mengandung gandum utuh karena klaim tersebut tidak selalu berarti produk memiliki kandungan gula rendah.
Namun, perlu diingat bahwa angka pada label menunjukkan total gula, yang bisa mencakup gula alami maupun gula tambahan. Karena itu, kandungan gula perlu dinilai bersama komposisi bahan dan jenis makanannya.
Langkah terakhir yang disarankan dr. Rupy adalah memastikan kebutuhan protein harian terpenuhi. Menurutnya, makanan yang kurang mengenyangkan bisa membuat seseorang lebih mudah menginginkan camilan manis. Karena itu, menambahkan sumber protein ke dalam menu makan bisa membantu mengelola rasa lapar dan keinginan mengonsumsi gula.
Mengurangi konsumsi gula tak harus dilakukan dengan langsung menghilangkan semua makanan manis dari menu harian. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten bisa menjadi langkah awal yang lebih mudah dipertahankan.
Mulailah dengan mengurangi gula dalam kopi atau teh, mengganti minuman manis dengan air putih, memilih sarapan yang lebih seimbang, dan membiasakan diri membaca label kemasan sebelum membeli makanan.
(Agustina Wulandari )